Selasa, 05 November 2013

The Girl and The Bad Guy 3:) part. 2

  • Kemana kamu Denis??? Kupikirkan terus malam ini... keberadaannya, bahkan aku sempat berpikir jangan-jangan Denis diculik... hiiiiiiiiiiiiiiii atau dimutilasi... ahhhhhhhhhh. TIDAK! TIDAK! TIDAK! Aku bahkan sampai menghubungi teman-temanku.. Gretha dan Lisa, dua temanku ini mengetahui aku menyukai Pria Dingin itu yg menurut penilaian mereka. Kutelepon mereka, ternyata Lisa mengetahui sedikit kabar bahwa ternyata Keluarga Denis terlilit hutang BANK, Ayah Denis kabur... kembali ke negara asalnya Inggris. Sehingga Rumahnya disita oleh BANK dan Denis beserta ibunya pindah. Hanya saja Lisa tidak mengetahui mereka pindah kemana. Tak terasa lama aku mengobrol, karna sisa pembicaraan setelahnya hanyalah curhat Lisa saja mengenai pacarnya Dimas aku pun jadi mengantuk dan tertidur. Sorry ya Lisa!!! aku ngantuk nich, lanjutin besok aja ya... aku tidur duluan ! See U tomorrow...
  • Esoknya aku bangun pagi pukul 07.00 pagi, tanpa bermanja-manja aku segera bergegas membereskan segalanya... mulai dari tempat tidur, lalu mandi, menyiapkan bahan mata Kuliah nanti, dan Sarapan tentunya tak boleh ketinggalan. Setelah berpamitan ayah lalu mengantarkanku ke Universitas.Oiya... ayahku adalah manager di salah satu Perusahaan terpandang di Jakarta. Sehingga kali ini aku memintanya menyelidiki hal yg aneh-aneh mengenai hutang Keluarga Luwis... " Harold Luwis " ayah Denis Luwis.Ayahku mengiyakan saja... ntah benar atau tidak dia menolongku mencari informasi, aku percaya saja sebab Ayahku itu orang yg baik... yg cinta mati sama Ibu. Aku bangga pada ayah, dia orang yg berwibawa dan bertanggung jawab.
  • Hari ini aku menunggu... setidaknya. Menunggu kedatangan Denis Luwis ke UI lagi... Ternyata.. sampai mata Kuliah yg terakhir selesai pun dia tidak datang juga...Aku sedikit kecewa juga dengannya. Aku keluar kelas dengan tidak bersemangat... Sampai akhirnya aku melihat ke arah Pintu Rektor, Denis keluar dari situ... Aku lalu berlari, tidak mempedulikan apa pun... sampai-sampai menabrak teman-teman yg lain." Hey, lihat-lihat donk... pake mata kalo jalan.. Dasar Sial "" Maaf " aku terus berlari... kerumunan mahasiswa makin banyak saja.Aku pun kehilangan jejaknya. Sedih kembali hatiku... hikz hikz T.T haaaaaaaaaaaaaaTapi aku tidak mati langkah, saat kulihat Rektor mulai keluar juga dan sepertinya hendak ingin pulang, aku mencegatnya... lalu bertanya" Pak Slamet! Siang Pak "" Ada apa toh? sampe tersenggal-senggal begitu nafasnya "" itu tadi... mahasiswa bernama ' Denis Luwis ' ngapain di Kantor Bapak "" ohhh Denis toh, dia ga ingin kuliah lagi katanya. Dia berhenti... saya juga kurang tahu kenapa, padahal dia orangnya cerdas dan ulet. Saya juga sayang kalo dia keluar "" kalo sayang... kenapa ga Bapak cegah, atau ngebiyaain Kuliah nya kek apa kek, Beasiswa... atau apa lah, Kenapa malah dibiarin pergi gitu aja "" Lho kog malah jadi kamu yg menceramahi saya, yaudah sebenarnya kamu ada maksud apa ini? saya udah mau pulang ini soalnya... terlambat makan masakan makan siang istri saya "" saya cuma pengen tahu alamat dia yg terbaru, ada kan Pak? "" mengenai itu tanya aja dia langsung, dia bilang mau menemui dosen kesayangannya dulu sama Kepala Perpustakaan ".
  • Aku sedikit lega, setelah kuucapkan terima kasih dan berpamitan. Aku segera bergegas saja menuju ruang dosen, dan bisa kupastikan dosen kesayangannya adalah teman ayahku sendiri itu " Pak Viktor Purba ".Tapi terlambat, Pak Viktor bilang Denis sudah berpamitan dan menuju Ruang Perpustakaan.Aku lari lagi... huft!!! lelah juga, mungkin karna kurang olah raga... fisik jadi lemah.Dan kali ini dia ada, sedang membaca buku... mungkin untuk yg terakhir kali. Malahan sekarang aku bingung mau ngomong apa dan bagaimana bertemu dia. Aneh ya!!!Setelah lama mengobrol dengan Kepala Perpustakaan dan menyampaikan maksudnya. Pak Sisworo (Kepala Perpustakaan) sedikit sedih juga dengan kepergian Denis, dia hanya bisa berpesan supaya Denis harus lebih berhasil di luar sana lalu ia memberikan hadiah buku kepada Denis berupa buku-buku yg sering ia baca berulang kali (kesukaan Denis) terutama buku kumpulan cerita dongeng. Aku juga tidak mengerti mengapa seorang pria seperti Denis yg gagah, cool, tampan bisa membaca buku-buku seperti itu... kekanak-kanakan sekali.
  • Boleh dibilang sekarang inilah saatnya aku beraksi. Aku menghampirinya lalu pura-pura pingsan di depannya...Sempat dia memegangku, lalu membantu aku bangun lagi." Kenapa? Sakit? " katanya dengan suaranya yg khas." Ng.. Ngg... Ngga kog "" Ohh, kalo gitu yaudah... saya duluan ya Ella "---------------------------------------------- BLANK barusan dia memanggil namaku... ahhhhhh pusing jadinya." Heyyyy, ya... aku sakit "" Sepertinya Tidak, sudah dulu ya! " balasnya.huft, mulai dech sifatnya yg dingin... tapi aku suka, setidaknya kali ini aku mengetahui dia baik-baik saja. Oiya aku kelupaan menanyakan alamatnya. Aku mengejarnya... namun dia sudah pergi jauh. Sedih lagi kurasakan... aku pulang dengan tangan hampa.
  • Sebenarnya tidak, aku tidak pergi jauh. Saat itu aku berada dibalik tangga... bersembunyi dan memperhatikanmu Ella. Ternyata kamu peduli padaku, terima kasih. Tapi sepertinya kali ini aku harus berpisah jauh darimu... baik itu status ataupun pertemanan kita selama ini... dari SD bahkan sampai Kuliah kau mengejarku... Sepertinya aku sudah cukup lelah selalu memendam perasaan ini. Tetapi sepertinya juga, kamu yang lebih lelah menghadapi sifat angkuhku yg sebenarnya adalah sifat takutku selama ini... yg dari dulu pun selalu tegang... berdiri kaku bila bertemu denganmu. ya seperti itulah.... benar!


    >>>> to be continued.


    Denis Luwis

Sabtu, 26 Oktober 2013

The Girl and The Bad Guy 3:) part. 1

  • Malam itu aku mulai memikirkan sesuatu. Tentang kehidupanku selama ini. Namaku Cinderella, biasa dipanggil “ Ella “, namaku itu diambil.. ya kalian sudah tahu sendiri tentunya, dari sebuah cerita dongeng kesenangan ibuku dari kecil. Nama ibuku “ Frederika “ kebangsaan campuran Jepang dan Jawa, lalu ayahku “ Jhonatan Thompson “ kebangsaan Eropa asli. Aku juga memiliki seorang adik bernama “ Qupid Angelica “… sepertinya yg ini juga kalian sedikit tahu lah maksudnya!
  • Ayah ibuku sewaktu muda… ceritanya sich katanya hubungan percintaannya sangat romantis, sampai-sampai ayahku sampai mengejar ibu lagi ke desa… sewaktu ibu ngambek waktu perjodohan ayahku dulu dengan wanita lain, begitulah tutur nenekku “ Fanesha “ suku jawa yogyakarta… Ibu dari Ibuku.

  • Ok! Jadi yg sebenarnya ingin kubahas bukanlah hal yg itu… tapi tentang kehidupanku selama ini, kembali ke topik awal, mengenai seorang pria yg sedari kecil sudah aku sukai… namanya “ Denis “ kebangsaan sedikit Jepang(kakeknya) dan batak(neneknya), Inggris dan batak yg berasal dari ayah dan ibunya. Orangnya memang dari dulu tertutup, pendiam, sok cool menurutku… dan bad guy, karna sedikit pun tidak pernah memperhatikan aku yg selalu memperhatikannya… huft ###

  • Aku dari dulu selalu mengikutinya… tanpa disadarinya, maksudnya… saat aku pertama kali bertemu dia sewaktu SD, sudah kuputuskan… saat SMP, SMA, bahkan sekarang Kuliah pun… aku akan selalu memilih sekolah yg sama dengannya. Sekarang ini aku kuliah di UI, Jakarta. Sempat susah juga masuk Universitas ini… mengingat nilai-nilaiku sewaktu SMA yg sedikit anjlok, tapi untunglah… Ayahku memiliki teman seorang Dosen yg juga dulu adalah teman satu sekolah ayah… “ Pak Viktor Purba “ orang suku batak.  Ya pokoknya begitulah! Saat ini aku sudah satu fakultas dengan Denis, di  fakultas Ekonomi…
  • Bahkan dia ke kantin pun aku ikuti, dia ke kamar mandi…??? TENTU TIDAK aku ikuti. Dia ke perpustakaan, sedang menghadap dosen, dan dekan juga aku ikuti seluruh gerak-geriknya… seperti aku posesif sekali padanya karna rasa sukaku ini, oiya penampilanku biasa-biasa saja tapi aku akui aku cantik lho orangnya… manis lagi, hihihihihi ;) kog aku jadi GR sendiri sich, godain donk! TIDAK! TIDAK! TIDAK! yg pantas menggodaiku itu Cuma Denis seorang… YA!
  • Sampai pada suatu waktu, Denis tidak masuk selama seminggu penuh… yg artinya dia tidak datang ke universitas bahkan sedikit pun. Aku sedikit cemas, kutanya teman-temannya kemana dia… tidak ada yg mengetahuinya, bahkan mereka bilang “ Siapa itu Denis? Ga kenal “ begitu katanya. Lalu aku pergi ke kantor dekan menanyakan tentang alamatnya saat ini di Jakarta. Setelah diberikan alamatnya, aku segera saja menuju alamat yg dimaksud, dan tak kusangka ternyata bacaan di rumahnya itu tertera jelas sekali “ RUMAH INI DIJUAL, BILA BERMINAT SEGERA HUB NO: XXXXXXXXX BANK CENTRAL ASIA(BCA) “.
  • Itulah yg kupikirkan malam ini… tentang aku yg seperti kehilangan sebelah sayapku… kehilangan pangeran berkuda putih yg kan datang menjemput kesendirianku ini. Hikz hikz T.T kemana kamu Denis???




    >>>>to be continued.


    CinderElla



    Ella Tanpa Kacamata

Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 10 THE END

Venesia senang… Aku pun merasakan hal yg sama. Pagutan terakhir kami menandakan cinta kami yg tersampaikan. “ Ben, memang begini seharusnya… aku… milikmu “ “ hahaha :D ada-ada saja, ayo masuk dulu… disini Hujannya lebat sekali lho… payung ini sepertinya sebentar lagi mau ambruk “ Venesia lalu mencubit perutku. “ Awwwww, sakit tau! “ pekikku. “ Yg serius donk… “ Venesia marah lalu memukul dadaku dengan kedua tangannya pelan. “ iya… Aku suka Kamu kog… sudah tau kan!? Kala begitu ayo masuk! “ “ he’emfff “ Venesia mengangguk. Ya, kami masuk ke dalam rumahku dengan aku yg merangkul Venesia berusaha menghangatkan tubuhnya… karna tadi dia terlanjur basah kuyub. Aku pun jadi ikut basah jadinya, ya… tapi sudahlah. Saat-saat seperti ini tidak boleh ada alasan lain, Jalani saja. (^_^)


Ibuku terlihat senang, lalu membuatkan kami sup hangat… Di tengah-tengah hujan itu kami bertiga bersenda gurau, mengobrol sampai puas… aku, Venesia dan Ibu. Sedang Bendias sedang tertidur pulas di kamarnya. Malam pukul 09.00 aku lalu mengantarkan Venesia pulang dengan mengayuh sepedaku ke Villanya di Berdern Street kawasan elite Enville. Aku mengantarkan Venesia sampai depan gerbang rumahnya saja. Venesia lalu mengundangku masuk. “ Ben masuklah… istirahat dulu sejenak, ayah sedang tidak ada kog. Dia sedang pergi ke Luar Negeri “ Tapi aku menolaknya. Venesia sempat menahanku… tapi aku memperingatkannya bahwa aku akan benar-benar menghilang kalau sifat agresifnya ini masih tetap diteruskan. Venesia lalu masuk ke dalam rumahnya. Aku pun pulang dalam damai.


Ternyata dari kejauhan mobil Alehandro terpampang, dia menyalakan lampu penerangan mobilnya hingga menyilaukan mataku. Lalu memacu laju kendaraannya seperti mau menabrakku, dan benar saja… dia memang hendak ingin menabrakku. Aku berusaha menghindar, tapi terlambat… Aku terpental, sepedaku pun hancur. Tapi beruntung aku, sepertinya nyawaku masih ada. Alehandro lalu keluar dari mobil dan membawa tali tambang. Dia seakan tahu aku masih hidup atau bagaimana dia lalu mengikatku… dan menaruhku di Bagasi belakang mobilnya. Aku di dalam, pengap sambil menahan luka. Kurasakan Porsche hitam ini melaju kencang… Dan lalu berhenti, sepertinya inilah pemberhentiannya. Alehandro lalu mengeluarkanku dari bagasi. Astaga, ternyata tempat pemberhentian ini adalah jurang yg cukup curam, dan lagi aku tidak tahu ini dimana. Dia lalu mendorongku yg masih dalam keadaan terikat sambil berkata “ Aku sudah mengetahuinya sedari tadi, siapa pun penghalang hubunganku dengan Venesia tak akan kumaafkan dan akan kulenyapkan, huh… hahahahaha 3:) “ Begitulah, aku menggelinding kebawah… grmbl grmbl grmbl… luka-lukaku pun terasa sekali sakitnya saat membentur permukaan tanah yg keras. Sepertinya kali ini aku benar-benar akan mati, sebab aku terus menggelinding tak tahu sampai mana ujungnya. Alehandro pun menganggap aku sudah mati. Bagaimana kelanjutan dari Ben Archer Steve sepertiku ini… aku tidak tahu lah. Kali ini semuanya kuserahkan pada TUHAN. (atau kepada si pengarang cerita ini saja, euyyy).


Lima bulan sudah berlalu, dan aku masih tak tau ini dimana. Tapi aku beruntung karna waktu itu ternyata ada penduduk daerah ini yg menolongku, Pengobatannya pun masih tradisional… Yg jelas nyawaku Selamat. (^_^) Dari surat kabar yang tidak tahu dapat darimana dia… Laweki penduduk yg menolongku ini memberitahukanku bahwa sudah saatnya aku pergi. Dari perawakannya dan peralatan yg ia gunakan sepertinya dia ahli sihir. Karna tinggal sendirian juga di daerah ini. “ Laweki, bagaimana aku bisa keluar dari sini… aku saja tidak tahu ini dimana dan lagi apa isi surat kabar itu sehingga kau menyuruh aku pergi “. “ ini… takdirmu. Kutukan akan dicabut… sebenarnya kau ini seorang Pawea yg dikutuk Bahava “ “ Apa itu? Aku tidak mengerti“ “ kau adalah seorang pangeran yg dikutuk dalam kepompong, maksudnya saat ini jati dirimu masih terbungkus dan harus dilepaskan “ Laweki lalu membacakan mantra, dan menyentuh keningku. Sepertinya ini tidak benar menurutku, ini tahayul. Namun setelah itu Laweki menjelaskan padaku bahwa dia kenal ibuku yg dia mengetahui namanya “ Lucy Handy “ karna Ayah Ibuku yg adalah Kakekku adalah Kepala suku disini, tapi suku itu sudah lama hilang… suku Fimawe dan Ibuku adalah Seorang Putri disini yg pergi ke kota dan akhirnya menikah dengan ayahku. Kutukan itu berasal dari Clark orang yg menyukai Ibuku tadinya… dia mengutuk seluruh keberuntungan dari keluargaku termasuk aku yg seorang Pangeran… sepertinya lantaran cintanya yg tidak tersampaikan kepada Ibuku. Dia melepaskan Bahava (tolak rejeki) kepada kami, begitulah penuturan Laweki.


Atas petunjuk Laweki aku tiba di Enville. Dan saat itu sedang diadakan lomba musikus band… seperti kebetulan. Semua bebas mendaftar karna biaya digratiskan. Pemenangnya akan menjadi artis dunia music yg baru. Aku lalu menghubungi teman-temanku… Santiago kuajak dan dia mau, dia lalu bergegas datang ke Enville menemuiku, Seniorku Ray… Bell juga yg pendiam itu mau aku ajak. Lengkap sudah kami berempat, Aku pada posisi guitarist plus vokal, Santiago pada solo gitar akustik plus backing vokal… , Seniorku Ray sebagai drummer dan Bell Bassis. Sepertinya benar kata Laweki tabirku pun terbuka… dari kepompong menjadi kupu-kupu yg cantik. Band yg kami beri nama “ BEAST “ ini menang kompetisi, dan band kami pun menjadi Band yg terkenal di Enville. Aku sempat menanyakan pada Ibuku tentang kakek dan Laweki… dan Ibuku membenarkan semuanya. Terkuaklah satu pembuktian.


Band kami melejit, aku pun telah menjadi actrees tersohor di Negara ini. Bukan hanya Enville dan Bostov saja tempat aku tinggal dulu, tapi seluruh wilayah kini mengenal kami “ BEAST “. Album kami laris manis diborong fans fans fanatic kami. Lagu2 yg beraliran slow Rock kami pun menjadi HITZ. Sampai suatu saat kudengar Venesia telah bertunangan dengan Alehandro namun sampai saat ini belum juga menikah. Aku kaget, berikut senang juga lantaran Venesia menepati janji bahwa dia adalah milikku dan tidak menikah dengan Alehandro. Di belakang panggung saat konser terakhirku untuk pekan ini, Venesia datang ditemani Alehandro sambil berpegangan tangan. Venesia lalu mendekatiku tapi ditahan oleh Alehandro. Aku lalu memanggil pengacaraku “ Louis “ dan memintanya mengurus kasusku dulu dengan memanggil petugas keamanan dan menjebloskannya ke Penjara saat ini juga. Tanpa basa-basi lagi Petugas keamanan menahan Alehandro karna mereka pun telah mengetahui duduk permasalahannya. Alehandro pun dikirim ke Rumah tahanan atas tuduhan penculikan dan pembunuhan diriku dulu. Dan Venesia pun lalu berlari sekencangnya memelukku erat sekali… “ Ben, aku senanggggggggggggggggggggggggg sekali. Hiks hiks… tapi kukira kamu benar menghilang selamanya karna aku yg agresif ini. “ “ Bodoh. Kau sudah bilang kan bahwa kau adalah milikku… mana mungkin aku meninggalkan yg telah kumiliki “ “ hehehe iya ^_^ aku milikmu. Selalu milikmu. Selamanya “ “ Mari… ikut aku ke panggung pernikahan kita!  Ayo! “ “ iya… ^_^ Ayo! “


Dan dimulailah kisah kami yg benar-benar sepasang kekasih sekarang. Tidak ada lagi yg aku tutup-tutupi, kami tutup-tutupi. Ayah Venesia pun menyetujuiku dengan keadaan yg sekarang. Aku yg sudah kaya raya. Dan sampailah kami pada tahap pernikahan, walau wajahku masih tergores tiga gores luka ini. Venesia masih tetap mencintaiku, di depan mahkamah agama… kami mengucap janji di Rumah Nikah Silvilia, Enville. Kulihat Laweki datang, Ibuku dan Ayah menyadarinya… Laweki membawa kantung kain yg kulihat sedikit berdarah. Dari keterangannya setelah acara ini aku mengetahui bahwa itu adalah kepala Clark… Kutukan hanya bisa dicabut apabila si pemberi kutukan dibunuh dan dicabut kepalanya, serta kehadiran seseorang yg benar-benar tulus mencintai. Begitulah bunyi hukum suku Fimawe. Setelah kedatangannya itu, aku mulai paham bunyi hukum itu. Venesia lalu menciumku, kami saling berciuman… sebagai tanda ikatan janji. Hal ajaib pun terjadi… Luka-lukaku semua yg membekas tadinya pun.. telah hilang… dan wajahku sekarang menampakkan kharismanya. Sekarang aku tampan, setidaknya begitu. Aku dan Venesia… kami pun lalu Hidup Bahagia, selamanya. (^_^)Terima Kasih from Ben Archer Steve and Venesia Mertys. (^_^)

THE END. Khamsahamnida. Arigatou. Thanks. Terima Kasih (^_^)


Laweki


Clark

Klimaks Cerita: Ben menikahi Venesia

Mereka Bahagia sampai Tua

Dan...

Inilah Akhir Cerita Bahagia untuk cerita ini.
Terima Kasih karna sudah membaca. (^_^)
SEE THE NEXT STORY!
by: Oktavianus Bernalius


Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 9

Dua jam sudah aku menungggu, dan saat itu hujan turun. Venesia tetap saja masih berdiri di depan rumahku dengan setia. Sampai hujan pun reda beberapa saat kemudian... Venesia kulihat basah kuyub. Sampai Ibuku datang... pulang sehabis belanja kebutuhan dapur. " kamu temannya Ben kan? kenapa tidak masuk? " " Saya menunggu Ben keluar bu " " aduhh tubuhmu sampai basah kuyub begini, biar ibu ambilkan handuk kering dan sekalian memanggil Ben dulu ya... tunggu sebentar disini kalau begitu " " Terima Kasih Bu " . Sesaat kemudian kulihat Ibuku membawa handuk kering, pakaian kering dan minuman hangat, lalu Ibuku berbincang-bincang lagi dengan Venesia. Seketika kulihat raut wajah Venesia langsung berubah jadi sedih. Ibuku seperti hendak memaksanya menunggu di dalam rumah saat itu, tapi Venesia menolak. Lalu Ibuku masuk lagi ke dalam rumah. Aku ikut sedih juga sebenarnya, hati ini merasakan sakit yg luar biasa.


Tiba-tiba suasana terpecah saat sebuah mobil lewat dan ternyata adalah pelangganku yg juga tetanggaku lewat di depanku sambil mengelaksonku dan memanggil aku. " Heiiii Bennnnn, sedang apa disitu? Terima Kasih servicenya... mobilku jadi terlihat lebih awet muda sekarang hahahahaha :D " Mobil itu lalu melaju lagi. Dan Venesia mendengar suara panggilan tadi, mendapatiku di seberang jalan. Dia lalu mendekatiku... semakin dekat... semakin dekat... dan semakin dekat. Sampai wajahnya bertemu wajahku, kemudian diciumnya bibirku penuh kehangatan. Aroma nafasnya sampai bisa aku rasakan memenuhi seluruh wajahku ini... dan hangat. Aku hanya bisa diam.


" Aku rindu padamu, sudah lama kita tidak bertemu Ben. Dan seharusnya memang ini yang harus sudah kuberikan dari dulu " " Hentikan semua ini nona, kita ini tidak memiliki hubungan apa-apa " " Dan sekarang telah menjadi apa-apa, sebab ciuman ini belum pernah kuberikan pada laki-laki lain. " " Mana bisa kutahu... dan lagi Bagiku ini tidak begitu istimewa " " Kalau begitu cium aku lagi sampai kau puas " tegas Venesia.
" Beennnnn kenapa kau jadi sedingin ini? Aku cuman cinta padamu, tidak yang lain. " " Dan lagi sebentar lagi aku akan bertunangan dan setelah itu pun tak lama aku akan menikah... tidakkah kau merasakan sesuatu " " Tidak, Aku sudah tahu. Dan memang kau pantasnya dengan kalangan yg sama... bukan denganku. " " Aku tidak peduli, aku akan kawin lari bersamamu " " Jangan bodoh, mana mungkin seorang Beauty mau bersama The Beast, lihat tiga gores luka di wajahku ini. Dan lagi kalau hidup bersamaku masa depanmu akan jadi susah, tidak ada masa depan yang baik. " " Beennnnnnnn... aku tidak peduli semuanya... aku tidak peduli... Bennnnnnnnn " Venesia lalu menangis tersedu-sedu sekali. Aku merasakan perih yg sama. Tapi aku lanjut bicara " Pulanglah! Nanti keluargamu mencemaskanmu ". Dan hujan pun turun lagi dengan lebatnya saat itu juga, seakan mengetahui kesedihan hati kami.


Di bawah hujan kami basah kuyub, aku lalu menuju ke depan pintu rumahku. Venesia mengikuti lalu lari dan memelukku dari belakang." Beennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn hikz hikz " " Pulanglah hari sudah mulai gelap "Aku lalu masuk dan menutup pintu rumah. Ibuku melihat semuanya tadi dari Jendela. Lalu aku menjelaskan semuanya... mulai dari kaenyataan bahwa Venesia adalah anak Dudley Mertys Konglomerat Enville. Ibuku paham dan menjelaskan " Tapi dia gadis juga kan, pantas untuk kau cintai. Lagian tidak baik kau memperlakukan dia seperti ini Ben " " Benar bu, sebenarnya aku juga tidak mau melakukan ini. Tapi mau bagaimana lagi!? " Lalu kulihat dari jendela... Ternyata Venesia masih menunggu di depan pintu rumah kebasahan karna di luar masih hujan lebat. Aku lalu keluar dan membawakan payung padanya . " Ini... Ambillah dan cepat Pulang, keluargamu pasti khawatir Venesia " . Dia hanya diam saja. Lalu kuberanikan diri... kucium juga bibirnya, kali ini kami benar-benar berciuman... di bawah payung yang disirami air hujan. Kami benar-benar berciuman, saling membalas seperti sepasang kekasih... saat itu juga perasaan kami tersampaikan. Seperti dalam cerita-cerita Dongeng, salah satu Dongeng favoritku ' BEAUTY & THE BEAST ' kali-kali saja dia mampu melepas kutukan ini, pikirku.



>>>>to be continued.



Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 8

Venesia lalu keluar dari mobil. Dan hendak menghampiriku, aku hanya diam saja... tidak bergerak sama sekali. Alehandro lalu keluar juga dan menangkap tangan Venesia lebih dulu, sebelum Venesia memelukku hendak melepas rindunya... sepertinya. Alehandro lalu bertanya padaku" Anda ini siapa? sampai-sampai Venesiaku jadi seperti ini... " Venesia lalu membalas perkataan Alehandro
" Kau yg siapa? Dia ini Bennnnnn, pacarku... " Seketika aku kaget juga mendengar perkataan Venesia barusan. " Benarkah? " tegas Alehandro. Aku lalu menjawabnya " Bukan tuan, nona ini salah mengenali orang!? Namaku memang Ben, tapi Bendias... itulah kepanjangannya, sedang nona ini mungkin saja mengenal Ben yg lain... " balasku dengan menyamarkan nama adikku sebagai namaku di depan Alehandro." Beennnnnnnn, ini aku Venesia... dan Santiago jg dia rindu sekali teman sepertimu ini, tapi kenapa? " " Lebih baik kita tunda dulu salah paham ini nona, jadi Tuan anda ingin memilih paket ke berapa untuk olinya?" iya... aku nona... nona kecilmu kan!? " Venesia melanjutkan, seperti dia mau depresi.

Aku lalu mengeluarkan catalog dan menjelaskan mengenai paket kepada Alehandro. Kulihat Venesia memperhatikanku dan seakan masih tidak mempercayai aku yg sudah berubah mungkin menurutnya. Memang selama hampir 2 tahun lebih ini, aku hanya fokus pada pekerjaan yg kugeluti saat ini, tidak ada yg lain. Bahkan bermain gitar pun aku sudah jarang. Alehandro lalu memilih paket pertama oli yg memang mahal dan great graduated " ENVILLE BAR ". Dan ditambah dengan minuman juice apel dan hiburan music jazz sebagai pelengkap di Bengkel kami sementara menunggu pergantian oli mobil dan pengecekan lainnya. Kulihat lagi Venesia masih melihatku dari bangku tunggu konsumen bersama Alehandro masih seakan tidak percaya atas perubahan sikapku ini. Dalam hatiku sebenarnya yg kurasakan sedikit berbunga-bunga karna perkataan lantang Venesia yg bilang aku pacarnya tadi, namun disisi lain aku tidak ingin melibatkannya dalam kehidupanku yg masih rumit ini, ditambah ayahnya yang memang konglomerat Enville. Yapp, pergantian oli mobil pun selesai berikut pengecekan lainnya. Alehandro lalu menuju cashier untuk membayar sejumlah pembayaran atas serviceku. Venesia lalu menghampiriku dan bilang " Bennnnnnnnn, aku tidak tahu kamu ini kenapa? Yang jelas aku memang hanya cinta padamu. Tapi sebentar lagi aku akan bertunangan dengan Alehandro atas usul ayah. Supaya mempererat hubungan bisnis keluargaku. " " Aku menunggu keputusanmu Bennnnn, aku lelah menunggu kepengecutanmu ini!!! " sambil menangis lalu Venesia pun pergi pulang bersama Alehandro. Aku lalu sejenak merenungkan perkataannya tadi... sambil tertawa kecil, dan sedikit depresi juga.

Salah satu seniorku lalu menghampiriku, kebetulan ayah dan paman Bruno mengambil cuti 3 hari untuk pergi mancing... yang jelas mereka berlibur. Jadi temanku ngobrol selama 3 hari ini adalah dia RAYMOND seniorku. Orangnya baik juga tegas dalam hal pekerjaan, dia selalu membahas politik mengenai negara kami. Sampai aku pusing juga dibuatnya selama 3 hari ini, tetapi banyak juga masukannya yg sangat berarti bagiku. Dia lalu bertanya padaku" Gadis tadi... siapa? temanmu? atau mantan pacar? " " Teman.... " " Hei nak, jangan membodohiku... aku lihat semuanya tadi, dia menyukaimu sobat " " Hanya perasaanmu saja Ray... sebenarnya tidak terjadi apa-apa diantara kami " " Apa karna wajahmu itu? tiga goresan luka itu... kamu jadi segan bertemu dengannya? " " Benarkah? Aku juga tidak begitu paham... " balasku." Bagaimana kau ini? Kau pria atau bukan sebenarnya? PD sajalah... " Raymond menyemangatiku." he... terima kasih Ray, tapi memang tidak terjadi apa-apa diantara kami. Hanya sebatas teman " aku berusaha meyakinkannya kembali." Baiklah, kalau kau butuh aku kau tahu kan aku berada dimana? datang saja "Ray tinggal dekat rumahku yg baru. Tiga blok dari rumahku yg masih dicicil... Ya, hari ini memang benar ramai sekali pengunjung... konsumen yg datang, sampai-sampai aku, Ray dan teman-teman seperjuangan lainnya kelelahan. Tapi kami senang sekali telah menuntaskan kegiatan kami mencari nafkah hari ini.


Aku lalu mampir kembali ke warnet. Kubuka emailku... dan Santiago pun membalas pesanku kemarin. " Bennn, akhirnya kau muncul juga. Sudah lama sekali kutunggu pesan darimu... Aku hanya bisa berdoa semoga kau sehat-sehat saja. " Lalu aku melihat email asing lain yg baru saja masuk... kubuka lalu kubaca " Hari Minggu tanggal 4 bulan 10 pertunangan kami akan berlangsung, aku mengundangmu Ben untuk hadir ke pertunanganku di Sargaso Hall, Enville. Aku menunggu. salam dari nona kecilmu Venesia "Aku kaget, dia bisa mengetahui emailku. Memang Venesia... nona kecilku ini penuh kejutan. Aku tidak membalas email tersebut sebab aku sudah mengerti maksud tujuan yg tidak akan kulakukan itu. Membawa lari Venesia di acara pertunangannya tidak pernah terpikir olehku. Aku segera mengakhiri billing, kututup akunku terlebih dahulu. Kubayar di cashier dan lalu pulang... Sebelum sampai ke arah pintu rumahku, aku berhenti di sekitar situ... Karna kulihat seorang gadis yg tak asing lagi berdiri persis di depan pintu rumahku...
Benar! Dia Venesia.... nona cantik kecilku yg agresif dan memang penuh dengan kejutan...
Kuperhatikan saja gerak geriknya dari tempatku berada. Kutunggu terus sampai dia merasa bosan...


>>>> to be continued.


Raymond

Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 7

Tidak tahu harus berbuat apa... harus bilang apa... harus bagaimana... menghadapi kemelut ini. Kulihat Ibu dan Bendias tidak henti-hentinya menangis. Badanku bergerak semaunya, kudekati salah satu Pria kekar itu. Lalu aku berlutut didepannya. Sambil memasang wajahku yang memang sudah lesu menghadapi kenyataan dari " KETERBASAN " yang aku dan keluargaku miliki ini. " Pak, tolong beri kami waktu... sampaikan pada Tuan Kingsley secepatnya kami akan membayar uang sewanya... saya mohon Pak ". " Tidakkah Bapak melihat keadaan adik saya yg cacat mental dan lumpuh layu disudut sana sedang menangis... karna tindakan Bapak ini " " Adik saya selama ini belum pernah melihat kekerasan, jadi saya tidak tahu akan sejatuh apa mentalnya sekarang ini " Pria itu tidak menghiraukan dan terus saja mengobrak abrik barang-barang yang masih ada untuk dikeluarkan, begitu pun temannya. " Maaf, nak. Kalau kamu mau jadi KUAT jadilah orang YANG BERKUASA. Kami pun disini hanya menjalankan tugas saja. Perintah langsung dari Majikan kami Kingsley atas rekomendasi Konglomerat Enville Dudley Mertys, asal kau tahu itu... " Seketika aku kaget mendengar nama Ayah Venesia. " Ada apa? Apa hubungannya dengan Tuan Dudley Mertys? sahutku. " Dia akan membeli tanah di wilayah ini... bahkan rumah-rumah penduduk yang lainnya pun akan diratakan. Bukankah semua tanah tempat rumah ini berdiri adalah tanah milik Tuan Kingsley " Astaga kejam sekali takdir ini, dalam hatiku. Aku hanya bisa pasrah lagi menyadari " KETERBATASAN " yang aku miliki.

Aku lalu pergi mengambil telepon umum, kuhubungi ayahku di tempat kerjanya... Sesaat kemudian Ayah datang dan berusaha menenangkan kami. Dari pertimbangannya ia mengambil keputusan agar kami tinggal sementara di kediaman temannya Bruno di Enville. Dengan berkendaraan PICK UP yg kami sewa... kami pergi ke Enville. Aku tidak sempat lagi berpamitan dengan teman-teman di Bostov. Karna bagiku kehidupan saat ini harus kujalani dengan lebih serius lagi. Sampailah kami di Enville... Jalan Centra Bugler no.59, rumah teman ayah " Bruno " Paman Bruno yg sama-sama bekerja sebagai montir (mechanic) di tempat ayah bekerja. Paman Bruno mengijinkan kami untuk tinggal sementara sampai kami mendapatkan rumah yg baru. Aku lalu berinisiatif untuk membantu ayahku saja di Bengkel bersama Paman Bruno jg. Untung saja ada lowongan buatku, manager tempat ayah bekerja mengijinkan aku bekerja disitu. Banyak ilmu yg dapat aku pelajari disini, dan aku pun bisa membantu ayah mengoreksi pekerjaan yg kadang salah begitu pikirku. Tak terasa 2 tahun sudah berlalu seperti ini, aku pun telah menjadi karyawan tetap disini. Dengan gaji yang agak lumayan berkat kerja kerasku selama ini, akhirnya kami mampu membeli rumah di wilayah Enville walaupun masih dalam tahap kredit, menyicil cicilan rumah tiap bulannya. Bendias terlihat sangat senang, hingga aku pun terpikir lagi tentang Santiago temanku, Pak Rich, Ibu Veronicca, dan................................................................................... VENESIA ..................................

Aku lalu mampir ke warnet, kubuka emailku. Untung saja belum terblokir... dan ternyata banyak pesan sudah masuk, dan itu dari Santiago... temanku. " Hai Ben, kalau kau membaca pesan ini... kurasa kau akan sangat merindukan kami, kemana saja kau? Ayahku selalu menanyaimu, Ibu Veronicca terpaksa mengeluarkan daftar namamu dari sekolah dan otomatis program beasiswamu pun telah dicabut... Aku bingung mengontrol keadaan disini tanpamu, bagaimana lagi... Venesia selalu menanyakan keberadaanmu sampai ia jatuh sakit... tetapi Ayahnya membawa ia pulang kembali ke Enville. Mungkin dia akan dirawat disana, dan sembuh. Tapi dia benar-benar butuh kau Ben... hanya kau. Salam dari teman baikmu Santiago "ohhh maafkan aku Santiago, sepertinya aku memang harus tetap begini. Biarkan saja Venesia melupakan aku... toh kami belum pernah menjalin hubungan sama sekali. Ditambah keadaanku dan luka di wajah ini yg masih membekas... pantasnya aku dipanggil 'si buruk rupa' saja. Maafkan aku Santiago... balasku di email sekenanya. Aku lalu menutup akun. Dan kembali termenung...


Esoknya aku kembali bekerja, dan kulihat banyak antrian service datang. Sepertinya bakal sibuk hari ini. Mulai dari cuci steam mobil, TUNE UP PERFORMA, turun mesin, hingga kebagian-bagian yg ringan seperti hanya ganti oli. hahaha ^_^ begitulah aku menghafal kegiatanku sehari-hari, seperti orang bodoh ya?. Aku lalu menemui konsumen yg hendak ganti oli dan memeriksa tekanan angin ban mobilnya. " Permisi Pak, Selamat Pagi. Ada yang bisa saya bantu " Dan ketika kaca rayban mobil itu dibuka... aku melihat Alehandro... dengan Venesia yang sedang duduk melihat ke jendela berlawanan dengan arah aku berdiri... Lalu Venesia menoleh... karna mendengar suara yg tidak asing lagi baginya entah bagaimana." Beeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn " itulah kata yg terucap dari mulutnya.

>>>> to be continued.


Bruno

Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 6

Aku lalu bergegas keluar dari persembunyian... dan lompat menendang berandalan yang ingin menusuk Venesia. Dan kena telak, aku menumbangkannya. Seketika Venesia dan Santiago pun tahu aku ada dan bergabung padaku... ups, sial.. harusnya aku tetap sembunyi kalau seperti ini jadinya. Venesia lalu berkata" Terima Kasih Tuan Tampan Pangeran berkuda putihku " Venesia lalu memelukku. ahhhhhhh" Eitssssss... Simpan dulu kata-kata yang tidak perlu, sana-sana hiiiii... sebentar lagi masuk, ayo bereskan mereka " kataku." Santiago kau maju duluan "" Dasar kau " Santiago menyanggah... lalu dia pun maju ke depan membereskan sisa dari berandalan yg masih aktif, Venesia menyusul... Aku lalu sembunyi lagi. hehehe ;) bukan." Lho kemana tuan tampanku pergi? Beeennnnn " Venesia mencariku. Setelah gerombolan berandalan itu tumbang, mereka (berandalan) pun pergi... sambil berkata " Awas Kalian ", aku sudah terlebih dahulu datang membawa serta Satpam Sekolah bersamaku. CHECKMATE, Satpam Sekolah lalu mengambil tindakan... dengan membawa mereka semua ke Kantor Polisi Bostov. Venesia menghampiriku lagi... dan aku sudah tahu dia mau apa, lalu aku berlari... menghindar sejauh mungkin. Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii Ya, tapi aku sangat berterima kasih kepada mereka (Venesia & Santiago) karna sudah membalas perbuatan para berandalan itu terhadapku.

Setelah kejadian itu, Satpam melapor kepada Ibu Veronicca. Lalu aku dipanggil ke kantornya... Ibu Veronicca bertanya beberapa hal, lalu aku menjelaskannya lebih rinci dan menyebutkan Venesia yang menjadi korban. Ibu Veronicca mengerti dan membebaskan aku dari hukuman... Memang dia tidak suka dengan perkelahian dan tidak ada kompensasi untuk hal itu selain dikeluarkan dari sekolah. Akan tetapi karna Venesia yg menjadi korban yg aku bela kesuciannya Ibu Veronicca justru salut padaku... dan menyanjungku." Kamu Hebat Ben, laki-laki sejati... seandaikan Ibu masih muda, mungkin Ibu akan menjadikanmu pacar Ibu. hahaha :D " candanya. Aku tersipu malu mendengar ucapan kepala sekolahku yang satu ini." Tapi wajahmu itu, apa tidak apa-apa? " tanya Bu Veronicca kembali. " Tidak kog, Tidak masalah... Tidak apa-apa Bu "
" Baiklah kalau begitu, silahkan kembali ke kelas Ben dan jangan berkelahi lagi " " hehehe ya baiklah "

Aku kembali ke kelas, Venesia sudah menunggu dengan setia di kursi sampingku. Aku hanya bisa diam terpaku saja, saat dia terus menerus memandangiku. Luka di wajahku tidak aku tutup-tutupi lagi dihadapannya, aku tersipu malu... karna barusan dia membelaku itu sudah sangat menggetarkan hatiku, apalagi dia ikut bertarung tadi, walau kutahu dia bisa bela diri tapi tetap saja dia wanita... seorang wanita yg pemberani, terima kasih Venesia ucapku dalam hati. Aku tidak berani mengatakannya langsung padanya karna banyak hal yg masih menjadi pertimbangan dalam hatiku. Kegiatan Belajar mengajar seperti biasanya... Pak Rich mengucapkan selamat datang kembali padaku, dia sepertinya rindu sekali padaku. Santiago hanya tersenyum saja melihat ayahnya... Aku mengerti perasaan itu. Terima Kasih Pak Rich, ucapku...Bel pulang sekolah pun berbunyi... kami semua pun pulang ke rumah masing-masing. Venesia tidak mengikutiku lagi, sebab Ayahnya... Dudley Mertys, selalu datang menjemput bersama supir pribadinya. Aku pun pulang, mengayuh sepeda... Sesampainya di rumah, aku terkejut... Barang-barang rumah semua berada di luar rumah. Ayahku pergi bekerja ke Enville, jadi hanya ada Ibuku disana dan Bendias yang menangis melihat dua orang berbadan kekar mengeluarkan semua isi rumahku. Dan ternyata mereka adalah suruhan pemilik rumah, Tuan Kingsley... karna kami memang terlambat membayar uang sewa kontrakan.


>>>> to be continued.


Kingsley