Sabtu, 26 Oktober 2013

The Girl and The Bad Guy 3:) part. 1

  • Malam itu aku mulai memikirkan sesuatu. Tentang kehidupanku selama ini. Namaku Cinderella, biasa dipanggil “ Ella “, namaku itu diambil.. ya kalian sudah tahu sendiri tentunya, dari sebuah cerita dongeng kesenangan ibuku dari kecil. Nama ibuku “ Frederika “ kebangsaan campuran Jepang dan Jawa, lalu ayahku “ Jhonatan Thompson “ kebangsaan Eropa asli. Aku juga memiliki seorang adik bernama “ Qupid Angelica “… sepertinya yg ini juga kalian sedikit tahu lah maksudnya!
  • Ayah ibuku sewaktu muda… ceritanya sich katanya hubungan percintaannya sangat romantis, sampai-sampai ayahku sampai mengejar ibu lagi ke desa… sewaktu ibu ngambek waktu perjodohan ayahku dulu dengan wanita lain, begitulah tutur nenekku “ Fanesha “ suku jawa yogyakarta… Ibu dari Ibuku.

  • Ok! Jadi yg sebenarnya ingin kubahas bukanlah hal yg itu… tapi tentang kehidupanku selama ini, kembali ke topik awal, mengenai seorang pria yg sedari kecil sudah aku sukai… namanya “ Denis “ kebangsaan sedikit Jepang(kakeknya) dan batak(neneknya), Inggris dan batak yg berasal dari ayah dan ibunya. Orangnya memang dari dulu tertutup, pendiam, sok cool menurutku… dan bad guy, karna sedikit pun tidak pernah memperhatikan aku yg selalu memperhatikannya… huft ###

  • Aku dari dulu selalu mengikutinya… tanpa disadarinya, maksudnya… saat aku pertama kali bertemu dia sewaktu SD, sudah kuputuskan… saat SMP, SMA, bahkan sekarang Kuliah pun… aku akan selalu memilih sekolah yg sama dengannya. Sekarang ini aku kuliah di UI, Jakarta. Sempat susah juga masuk Universitas ini… mengingat nilai-nilaiku sewaktu SMA yg sedikit anjlok, tapi untunglah… Ayahku memiliki teman seorang Dosen yg juga dulu adalah teman satu sekolah ayah… “ Pak Viktor Purba “ orang suku batak.  Ya pokoknya begitulah! Saat ini aku sudah satu fakultas dengan Denis, di  fakultas Ekonomi…
  • Bahkan dia ke kantin pun aku ikuti, dia ke kamar mandi…??? TENTU TIDAK aku ikuti. Dia ke perpustakaan, sedang menghadap dosen, dan dekan juga aku ikuti seluruh gerak-geriknya… seperti aku posesif sekali padanya karna rasa sukaku ini, oiya penampilanku biasa-biasa saja tapi aku akui aku cantik lho orangnya… manis lagi, hihihihihi ;) kog aku jadi GR sendiri sich, godain donk! TIDAK! TIDAK! TIDAK! yg pantas menggodaiku itu Cuma Denis seorang… YA!
  • Sampai pada suatu waktu, Denis tidak masuk selama seminggu penuh… yg artinya dia tidak datang ke universitas bahkan sedikit pun. Aku sedikit cemas, kutanya teman-temannya kemana dia… tidak ada yg mengetahuinya, bahkan mereka bilang “ Siapa itu Denis? Ga kenal “ begitu katanya. Lalu aku pergi ke kantor dekan menanyakan tentang alamatnya saat ini di Jakarta. Setelah diberikan alamatnya, aku segera saja menuju alamat yg dimaksud, dan tak kusangka ternyata bacaan di rumahnya itu tertera jelas sekali “ RUMAH INI DIJUAL, BILA BERMINAT SEGERA HUB NO: XXXXXXXXX BANK CENTRAL ASIA(BCA) “.
  • Itulah yg kupikirkan malam ini… tentang aku yg seperti kehilangan sebelah sayapku… kehilangan pangeran berkuda putih yg kan datang menjemput kesendirianku ini. Hikz hikz T.T kemana kamu Denis???




    >>>>to be continued.


    CinderElla



    Ella Tanpa Kacamata

Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 10 THE END

Venesia senang… Aku pun merasakan hal yg sama. Pagutan terakhir kami menandakan cinta kami yg tersampaikan. “ Ben, memang begini seharusnya… aku… milikmu “ “ hahaha :D ada-ada saja, ayo masuk dulu… disini Hujannya lebat sekali lho… payung ini sepertinya sebentar lagi mau ambruk “ Venesia lalu mencubit perutku. “ Awwwww, sakit tau! “ pekikku. “ Yg serius donk… “ Venesia marah lalu memukul dadaku dengan kedua tangannya pelan. “ iya… Aku suka Kamu kog… sudah tau kan!? Kala begitu ayo masuk! “ “ he’emfff “ Venesia mengangguk. Ya, kami masuk ke dalam rumahku dengan aku yg merangkul Venesia berusaha menghangatkan tubuhnya… karna tadi dia terlanjur basah kuyub. Aku pun jadi ikut basah jadinya, ya… tapi sudahlah. Saat-saat seperti ini tidak boleh ada alasan lain, Jalani saja. (^_^)


Ibuku terlihat senang, lalu membuatkan kami sup hangat… Di tengah-tengah hujan itu kami bertiga bersenda gurau, mengobrol sampai puas… aku, Venesia dan Ibu. Sedang Bendias sedang tertidur pulas di kamarnya. Malam pukul 09.00 aku lalu mengantarkan Venesia pulang dengan mengayuh sepedaku ke Villanya di Berdern Street kawasan elite Enville. Aku mengantarkan Venesia sampai depan gerbang rumahnya saja. Venesia lalu mengundangku masuk. “ Ben masuklah… istirahat dulu sejenak, ayah sedang tidak ada kog. Dia sedang pergi ke Luar Negeri “ Tapi aku menolaknya. Venesia sempat menahanku… tapi aku memperingatkannya bahwa aku akan benar-benar menghilang kalau sifat agresifnya ini masih tetap diteruskan. Venesia lalu masuk ke dalam rumahnya. Aku pun pulang dalam damai.


Ternyata dari kejauhan mobil Alehandro terpampang, dia menyalakan lampu penerangan mobilnya hingga menyilaukan mataku. Lalu memacu laju kendaraannya seperti mau menabrakku, dan benar saja… dia memang hendak ingin menabrakku. Aku berusaha menghindar, tapi terlambat… Aku terpental, sepedaku pun hancur. Tapi beruntung aku, sepertinya nyawaku masih ada. Alehandro lalu keluar dari mobil dan membawa tali tambang. Dia seakan tahu aku masih hidup atau bagaimana dia lalu mengikatku… dan menaruhku di Bagasi belakang mobilnya. Aku di dalam, pengap sambil menahan luka. Kurasakan Porsche hitam ini melaju kencang… Dan lalu berhenti, sepertinya inilah pemberhentiannya. Alehandro lalu mengeluarkanku dari bagasi. Astaga, ternyata tempat pemberhentian ini adalah jurang yg cukup curam, dan lagi aku tidak tahu ini dimana. Dia lalu mendorongku yg masih dalam keadaan terikat sambil berkata “ Aku sudah mengetahuinya sedari tadi, siapa pun penghalang hubunganku dengan Venesia tak akan kumaafkan dan akan kulenyapkan, huh… hahahahaha 3:) “ Begitulah, aku menggelinding kebawah… grmbl grmbl grmbl… luka-lukaku pun terasa sekali sakitnya saat membentur permukaan tanah yg keras. Sepertinya kali ini aku benar-benar akan mati, sebab aku terus menggelinding tak tahu sampai mana ujungnya. Alehandro pun menganggap aku sudah mati. Bagaimana kelanjutan dari Ben Archer Steve sepertiku ini… aku tidak tahu lah. Kali ini semuanya kuserahkan pada TUHAN. (atau kepada si pengarang cerita ini saja, euyyy).


Lima bulan sudah berlalu, dan aku masih tak tau ini dimana. Tapi aku beruntung karna waktu itu ternyata ada penduduk daerah ini yg menolongku, Pengobatannya pun masih tradisional… Yg jelas nyawaku Selamat. (^_^) Dari surat kabar yang tidak tahu dapat darimana dia… Laweki penduduk yg menolongku ini memberitahukanku bahwa sudah saatnya aku pergi. Dari perawakannya dan peralatan yg ia gunakan sepertinya dia ahli sihir. Karna tinggal sendirian juga di daerah ini. “ Laweki, bagaimana aku bisa keluar dari sini… aku saja tidak tahu ini dimana dan lagi apa isi surat kabar itu sehingga kau menyuruh aku pergi “. “ ini… takdirmu. Kutukan akan dicabut… sebenarnya kau ini seorang Pawea yg dikutuk Bahava “ “ Apa itu? Aku tidak mengerti“ “ kau adalah seorang pangeran yg dikutuk dalam kepompong, maksudnya saat ini jati dirimu masih terbungkus dan harus dilepaskan “ Laweki lalu membacakan mantra, dan menyentuh keningku. Sepertinya ini tidak benar menurutku, ini tahayul. Namun setelah itu Laweki menjelaskan padaku bahwa dia kenal ibuku yg dia mengetahui namanya “ Lucy Handy “ karna Ayah Ibuku yg adalah Kakekku adalah Kepala suku disini, tapi suku itu sudah lama hilang… suku Fimawe dan Ibuku adalah Seorang Putri disini yg pergi ke kota dan akhirnya menikah dengan ayahku. Kutukan itu berasal dari Clark orang yg menyukai Ibuku tadinya… dia mengutuk seluruh keberuntungan dari keluargaku termasuk aku yg seorang Pangeran… sepertinya lantaran cintanya yg tidak tersampaikan kepada Ibuku. Dia melepaskan Bahava (tolak rejeki) kepada kami, begitulah penuturan Laweki.


Atas petunjuk Laweki aku tiba di Enville. Dan saat itu sedang diadakan lomba musikus band… seperti kebetulan. Semua bebas mendaftar karna biaya digratiskan. Pemenangnya akan menjadi artis dunia music yg baru. Aku lalu menghubungi teman-temanku… Santiago kuajak dan dia mau, dia lalu bergegas datang ke Enville menemuiku, Seniorku Ray… Bell juga yg pendiam itu mau aku ajak. Lengkap sudah kami berempat, Aku pada posisi guitarist plus vokal, Santiago pada solo gitar akustik plus backing vokal… , Seniorku Ray sebagai drummer dan Bell Bassis. Sepertinya benar kata Laweki tabirku pun terbuka… dari kepompong menjadi kupu-kupu yg cantik. Band yg kami beri nama “ BEAST “ ini menang kompetisi, dan band kami pun menjadi Band yg terkenal di Enville. Aku sempat menanyakan pada Ibuku tentang kakek dan Laweki… dan Ibuku membenarkan semuanya. Terkuaklah satu pembuktian.


Band kami melejit, aku pun telah menjadi actrees tersohor di Negara ini. Bukan hanya Enville dan Bostov saja tempat aku tinggal dulu, tapi seluruh wilayah kini mengenal kami “ BEAST “. Album kami laris manis diborong fans fans fanatic kami. Lagu2 yg beraliran slow Rock kami pun menjadi HITZ. Sampai suatu saat kudengar Venesia telah bertunangan dengan Alehandro namun sampai saat ini belum juga menikah. Aku kaget, berikut senang juga lantaran Venesia menepati janji bahwa dia adalah milikku dan tidak menikah dengan Alehandro. Di belakang panggung saat konser terakhirku untuk pekan ini, Venesia datang ditemani Alehandro sambil berpegangan tangan. Venesia lalu mendekatiku tapi ditahan oleh Alehandro. Aku lalu memanggil pengacaraku “ Louis “ dan memintanya mengurus kasusku dulu dengan memanggil petugas keamanan dan menjebloskannya ke Penjara saat ini juga. Tanpa basa-basi lagi Petugas keamanan menahan Alehandro karna mereka pun telah mengetahui duduk permasalahannya. Alehandro pun dikirim ke Rumah tahanan atas tuduhan penculikan dan pembunuhan diriku dulu. Dan Venesia pun lalu berlari sekencangnya memelukku erat sekali… “ Ben, aku senanggggggggggggggggggggggggg sekali. Hiks hiks… tapi kukira kamu benar menghilang selamanya karna aku yg agresif ini. “ “ Bodoh. Kau sudah bilang kan bahwa kau adalah milikku… mana mungkin aku meninggalkan yg telah kumiliki “ “ hehehe iya ^_^ aku milikmu. Selalu milikmu. Selamanya “ “ Mari… ikut aku ke panggung pernikahan kita!  Ayo! “ “ iya… ^_^ Ayo! “


Dan dimulailah kisah kami yg benar-benar sepasang kekasih sekarang. Tidak ada lagi yg aku tutup-tutupi, kami tutup-tutupi. Ayah Venesia pun menyetujuiku dengan keadaan yg sekarang. Aku yg sudah kaya raya. Dan sampailah kami pada tahap pernikahan, walau wajahku masih tergores tiga gores luka ini. Venesia masih tetap mencintaiku, di depan mahkamah agama… kami mengucap janji di Rumah Nikah Silvilia, Enville. Kulihat Laweki datang, Ibuku dan Ayah menyadarinya… Laweki membawa kantung kain yg kulihat sedikit berdarah. Dari keterangannya setelah acara ini aku mengetahui bahwa itu adalah kepala Clark… Kutukan hanya bisa dicabut apabila si pemberi kutukan dibunuh dan dicabut kepalanya, serta kehadiran seseorang yg benar-benar tulus mencintai. Begitulah bunyi hukum suku Fimawe. Setelah kedatangannya itu, aku mulai paham bunyi hukum itu. Venesia lalu menciumku, kami saling berciuman… sebagai tanda ikatan janji. Hal ajaib pun terjadi… Luka-lukaku semua yg membekas tadinya pun.. telah hilang… dan wajahku sekarang menampakkan kharismanya. Sekarang aku tampan, setidaknya begitu. Aku dan Venesia… kami pun lalu Hidup Bahagia, selamanya. (^_^)Terima Kasih from Ben Archer Steve and Venesia Mertys. (^_^)

THE END. Khamsahamnida. Arigatou. Thanks. Terima Kasih (^_^)


Laweki


Clark

Klimaks Cerita: Ben menikahi Venesia

Mereka Bahagia sampai Tua

Dan...

Inilah Akhir Cerita Bahagia untuk cerita ini.
Terima Kasih karna sudah membaca. (^_^)
SEE THE NEXT STORY!
by: Oktavianus Bernalius


Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 9

Dua jam sudah aku menungggu, dan saat itu hujan turun. Venesia tetap saja masih berdiri di depan rumahku dengan setia. Sampai hujan pun reda beberapa saat kemudian... Venesia kulihat basah kuyub. Sampai Ibuku datang... pulang sehabis belanja kebutuhan dapur. " kamu temannya Ben kan? kenapa tidak masuk? " " Saya menunggu Ben keluar bu " " aduhh tubuhmu sampai basah kuyub begini, biar ibu ambilkan handuk kering dan sekalian memanggil Ben dulu ya... tunggu sebentar disini kalau begitu " " Terima Kasih Bu " . Sesaat kemudian kulihat Ibuku membawa handuk kering, pakaian kering dan minuman hangat, lalu Ibuku berbincang-bincang lagi dengan Venesia. Seketika kulihat raut wajah Venesia langsung berubah jadi sedih. Ibuku seperti hendak memaksanya menunggu di dalam rumah saat itu, tapi Venesia menolak. Lalu Ibuku masuk lagi ke dalam rumah. Aku ikut sedih juga sebenarnya, hati ini merasakan sakit yg luar biasa.


Tiba-tiba suasana terpecah saat sebuah mobil lewat dan ternyata adalah pelangganku yg juga tetanggaku lewat di depanku sambil mengelaksonku dan memanggil aku. " Heiiii Bennnnn, sedang apa disitu? Terima Kasih servicenya... mobilku jadi terlihat lebih awet muda sekarang hahahahaha :D " Mobil itu lalu melaju lagi. Dan Venesia mendengar suara panggilan tadi, mendapatiku di seberang jalan. Dia lalu mendekatiku... semakin dekat... semakin dekat... dan semakin dekat. Sampai wajahnya bertemu wajahku, kemudian diciumnya bibirku penuh kehangatan. Aroma nafasnya sampai bisa aku rasakan memenuhi seluruh wajahku ini... dan hangat. Aku hanya bisa diam.


" Aku rindu padamu, sudah lama kita tidak bertemu Ben. Dan seharusnya memang ini yang harus sudah kuberikan dari dulu " " Hentikan semua ini nona, kita ini tidak memiliki hubungan apa-apa " " Dan sekarang telah menjadi apa-apa, sebab ciuman ini belum pernah kuberikan pada laki-laki lain. " " Mana bisa kutahu... dan lagi Bagiku ini tidak begitu istimewa " " Kalau begitu cium aku lagi sampai kau puas " tegas Venesia.
" Beennnnn kenapa kau jadi sedingin ini? Aku cuman cinta padamu, tidak yang lain. " " Dan lagi sebentar lagi aku akan bertunangan dan setelah itu pun tak lama aku akan menikah... tidakkah kau merasakan sesuatu " " Tidak, Aku sudah tahu. Dan memang kau pantasnya dengan kalangan yg sama... bukan denganku. " " Aku tidak peduli, aku akan kawin lari bersamamu " " Jangan bodoh, mana mungkin seorang Beauty mau bersama The Beast, lihat tiga gores luka di wajahku ini. Dan lagi kalau hidup bersamaku masa depanmu akan jadi susah, tidak ada masa depan yang baik. " " Beennnnnnnn... aku tidak peduli semuanya... aku tidak peduli... Bennnnnnnnn " Venesia lalu menangis tersedu-sedu sekali. Aku merasakan perih yg sama. Tapi aku lanjut bicara " Pulanglah! Nanti keluargamu mencemaskanmu ". Dan hujan pun turun lagi dengan lebatnya saat itu juga, seakan mengetahui kesedihan hati kami.


Di bawah hujan kami basah kuyub, aku lalu menuju ke depan pintu rumahku. Venesia mengikuti lalu lari dan memelukku dari belakang." Beennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn hikz hikz " " Pulanglah hari sudah mulai gelap "Aku lalu masuk dan menutup pintu rumah. Ibuku melihat semuanya tadi dari Jendela. Lalu aku menjelaskan semuanya... mulai dari kaenyataan bahwa Venesia adalah anak Dudley Mertys Konglomerat Enville. Ibuku paham dan menjelaskan " Tapi dia gadis juga kan, pantas untuk kau cintai. Lagian tidak baik kau memperlakukan dia seperti ini Ben " " Benar bu, sebenarnya aku juga tidak mau melakukan ini. Tapi mau bagaimana lagi!? " Lalu kulihat dari jendela... Ternyata Venesia masih menunggu di depan pintu rumah kebasahan karna di luar masih hujan lebat. Aku lalu keluar dan membawakan payung padanya . " Ini... Ambillah dan cepat Pulang, keluargamu pasti khawatir Venesia " . Dia hanya diam saja. Lalu kuberanikan diri... kucium juga bibirnya, kali ini kami benar-benar berciuman... di bawah payung yang disirami air hujan. Kami benar-benar berciuman, saling membalas seperti sepasang kekasih... saat itu juga perasaan kami tersampaikan. Seperti dalam cerita-cerita Dongeng, salah satu Dongeng favoritku ' BEAUTY & THE BEAST ' kali-kali saja dia mampu melepas kutukan ini, pikirku.



>>>>to be continued.



Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 8

Venesia lalu keluar dari mobil. Dan hendak menghampiriku, aku hanya diam saja... tidak bergerak sama sekali. Alehandro lalu keluar juga dan menangkap tangan Venesia lebih dulu, sebelum Venesia memelukku hendak melepas rindunya... sepertinya. Alehandro lalu bertanya padaku" Anda ini siapa? sampai-sampai Venesiaku jadi seperti ini... " Venesia lalu membalas perkataan Alehandro
" Kau yg siapa? Dia ini Bennnnnn, pacarku... " Seketika aku kaget juga mendengar perkataan Venesia barusan. " Benarkah? " tegas Alehandro. Aku lalu menjawabnya " Bukan tuan, nona ini salah mengenali orang!? Namaku memang Ben, tapi Bendias... itulah kepanjangannya, sedang nona ini mungkin saja mengenal Ben yg lain... " balasku dengan menyamarkan nama adikku sebagai namaku di depan Alehandro." Beennnnnnnn, ini aku Venesia... dan Santiago jg dia rindu sekali teman sepertimu ini, tapi kenapa? " " Lebih baik kita tunda dulu salah paham ini nona, jadi Tuan anda ingin memilih paket ke berapa untuk olinya?" iya... aku nona... nona kecilmu kan!? " Venesia melanjutkan, seperti dia mau depresi.

Aku lalu mengeluarkan catalog dan menjelaskan mengenai paket kepada Alehandro. Kulihat Venesia memperhatikanku dan seakan masih tidak mempercayai aku yg sudah berubah mungkin menurutnya. Memang selama hampir 2 tahun lebih ini, aku hanya fokus pada pekerjaan yg kugeluti saat ini, tidak ada yg lain. Bahkan bermain gitar pun aku sudah jarang. Alehandro lalu memilih paket pertama oli yg memang mahal dan great graduated " ENVILLE BAR ". Dan ditambah dengan minuman juice apel dan hiburan music jazz sebagai pelengkap di Bengkel kami sementara menunggu pergantian oli mobil dan pengecekan lainnya. Kulihat lagi Venesia masih melihatku dari bangku tunggu konsumen bersama Alehandro masih seakan tidak percaya atas perubahan sikapku ini. Dalam hatiku sebenarnya yg kurasakan sedikit berbunga-bunga karna perkataan lantang Venesia yg bilang aku pacarnya tadi, namun disisi lain aku tidak ingin melibatkannya dalam kehidupanku yg masih rumit ini, ditambah ayahnya yang memang konglomerat Enville. Yapp, pergantian oli mobil pun selesai berikut pengecekan lainnya. Alehandro lalu menuju cashier untuk membayar sejumlah pembayaran atas serviceku. Venesia lalu menghampiriku dan bilang " Bennnnnnnnn, aku tidak tahu kamu ini kenapa? Yang jelas aku memang hanya cinta padamu. Tapi sebentar lagi aku akan bertunangan dengan Alehandro atas usul ayah. Supaya mempererat hubungan bisnis keluargaku. " " Aku menunggu keputusanmu Bennnnn, aku lelah menunggu kepengecutanmu ini!!! " sambil menangis lalu Venesia pun pergi pulang bersama Alehandro. Aku lalu sejenak merenungkan perkataannya tadi... sambil tertawa kecil, dan sedikit depresi juga.

Salah satu seniorku lalu menghampiriku, kebetulan ayah dan paman Bruno mengambil cuti 3 hari untuk pergi mancing... yang jelas mereka berlibur. Jadi temanku ngobrol selama 3 hari ini adalah dia RAYMOND seniorku. Orangnya baik juga tegas dalam hal pekerjaan, dia selalu membahas politik mengenai negara kami. Sampai aku pusing juga dibuatnya selama 3 hari ini, tetapi banyak juga masukannya yg sangat berarti bagiku. Dia lalu bertanya padaku" Gadis tadi... siapa? temanmu? atau mantan pacar? " " Teman.... " " Hei nak, jangan membodohiku... aku lihat semuanya tadi, dia menyukaimu sobat " " Hanya perasaanmu saja Ray... sebenarnya tidak terjadi apa-apa diantara kami " " Apa karna wajahmu itu? tiga goresan luka itu... kamu jadi segan bertemu dengannya? " " Benarkah? Aku juga tidak begitu paham... " balasku." Bagaimana kau ini? Kau pria atau bukan sebenarnya? PD sajalah... " Raymond menyemangatiku." he... terima kasih Ray, tapi memang tidak terjadi apa-apa diantara kami. Hanya sebatas teman " aku berusaha meyakinkannya kembali." Baiklah, kalau kau butuh aku kau tahu kan aku berada dimana? datang saja "Ray tinggal dekat rumahku yg baru. Tiga blok dari rumahku yg masih dicicil... Ya, hari ini memang benar ramai sekali pengunjung... konsumen yg datang, sampai-sampai aku, Ray dan teman-teman seperjuangan lainnya kelelahan. Tapi kami senang sekali telah menuntaskan kegiatan kami mencari nafkah hari ini.


Aku lalu mampir kembali ke warnet. Kubuka emailku... dan Santiago pun membalas pesanku kemarin. " Bennn, akhirnya kau muncul juga. Sudah lama sekali kutunggu pesan darimu... Aku hanya bisa berdoa semoga kau sehat-sehat saja. " Lalu aku melihat email asing lain yg baru saja masuk... kubuka lalu kubaca " Hari Minggu tanggal 4 bulan 10 pertunangan kami akan berlangsung, aku mengundangmu Ben untuk hadir ke pertunanganku di Sargaso Hall, Enville. Aku menunggu. salam dari nona kecilmu Venesia "Aku kaget, dia bisa mengetahui emailku. Memang Venesia... nona kecilku ini penuh kejutan. Aku tidak membalas email tersebut sebab aku sudah mengerti maksud tujuan yg tidak akan kulakukan itu. Membawa lari Venesia di acara pertunangannya tidak pernah terpikir olehku. Aku segera mengakhiri billing, kututup akunku terlebih dahulu. Kubayar di cashier dan lalu pulang... Sebelum sampai ke arah pintu rumahku, aku berhenti di sekitar situ... Karna kulihat seorang gadis yg tak asing lagi berdiri persis di depan pintu rumahku...
Benar! Dia Venesia.... nona cantik kecilku yg agresif dan memang penuh dengan kejutan...
Kuperhatikan saja gerak geriknya dari tempatku berada. Kutunggu terus sampai dia merasa bosan...


>>>> to be continued.


Raymond

Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 7

Tidak tahu harus berbuat apa... harus bilang apa... harus bagaimana... menghadapi kemelut ini. Kulihat Ibu dan Bendias tidak henti-hentinya menangis. Badanku bergerak semaunya, kudekati salah satu Pria kekar itu. Lalu aku berlutut didepannya. Sambil memasang wajahku yang memang sudah lesu menghadapi kenyataan dari " KETERBASAN " yang aku dan keluargaku miliki ini. " Pak, tolong beri kami waktu... sampaikan pada Tuan Kingsley secepatnya kami akan membayar uang sewanya... saya mohon Pak ". " Tidakkah Bapak melihat keadaan adik saya yg cacat mental dan lumpuh layu disudut sana sedang menangis... karna tindakan Bapak ini " " Adik saya selama ini belum pernah melihat kekerasan, jadi saya tidak tahu akan sejatuh apa mentalnya sekarang ini " Pria itu tidak menghiraukan dan terus saja mengobrak abrik barang-barang yang masih ada untuk dikeluarkan, begitu pun temannya. " Maaf, nak. Kalau kamu mau jadi KUAT jadilah orang YANG BERKUASA. Kami pun disini hanya menjalankan tugas saja. Perintah langsung dari Majikan kami Kingsley atas rekomendasi Konglomerat Enville Dudley Mertys, asal kau tahu itu... " Seketika aku kaget mendengar nama Ayah Venesia. " Ada apa? Apa hubungannya dengan Tuan Dudley Mertys? sahutku. " Dia akan membeli tanah di wilayah ini... bahkan rumah-rumah penduduk yang lainnya pun akan diratakan. Bukankah semua tanah tempat rumah ini berdiri adalah tanah milik Tuan Kingsley " Astaga kejam sekali takdir ini, dalam hatiku. Aku hanya bisa pasrah lagi menyadari " KETERBATASAN " yang aku miliki.

Aku lalu pergi mengambil telepon umum, kuhubungi ayahku di tempat kerjanya... Sesaat kemudian Ayah datang dan berusaha menenangkan kami. Dari pertimbangannya ia mengambil keputusan agar kami tinggal sementara di kediaman temannya Bruno di Enville. Dengan berkendaraan PICK UP yg kami sewa... kami pergi ke Enville. Aku tidak sempat lagi berpamitan dengan teman-teman di Bostov. Karna bagiku kehidupan saat ini harus kujalani dengan lebih serius lagi. Sampailah kami di Enville... Jalan Centra Bugler no.59, rumah teman ayah " Bruno " Paman Bruno yg sama-sama bekerja sebagai montir (mechanic) di tempat ayah bekerja. Paman Bruno mengijinkan kami untuk tinggal sementara sampai kami mendapatkan rumah yg baru. Aku lalu berinisiatif untuk membantu ayahku saja di Bengkel bersama Paman Bruno jg. Untung saja ada lowongan buatku, manager tempat ayah bekerja mengijinkan aku bekerja disitu. Banyak ilmu yg dapat aku pelajari disini, dan aku pun bisa membantu ayah mengoreksi pekerjaan yg kadang salah begitu pikirku. Tak terasa 2 tahun sudah berlalu seperti ini, aku pun telah menjadi karyawan tetap disini. Dengan gaji yang agak lumayan berkat kerja kerasku selama ini, akhirnya kami mampu membeli rumah di wilayah Enville walaupun masih dalam tahap kredit, menyicil cicilan rumah tiap bulannya. Bendias terlihat sangat senang, hingga aku pun terpikir lagi tentang Santiago temanku, Pak Rich, Ibu Veronicca, dan................................................................................... VENESIA ..................................

Aku lalu mampir ke warnet, kubuka emailku. Untung saja belum terblokir... dan ternyata banyak pesan sudah masuk, dan itu dari Santiago... temanku. " Hai Ben, kalau kau membaca pesan ini... kurasa kau akan sangat merindukan kami, kemana saja kau? Ayahku selalu menanyaimu, Ibu Veronicca terpaksa mengeluarkan daftar namamu dari sekolah dan otomatis program beasiswamu pun telah dicabut... Aku bingung mengontrol keadaan disini tanpamu, bagaimana lagi... Venesia selalu menanyakan keberadaanmu sampai ia jatuh sakit... tetapi Ayahnya membawa ia pulang kembali ke Enville. Mungkin dia akan dirawat disana, dan sembuh. Tapi dia benar-benar butuh kau Ben... hanya kau. Salam dari teman baikmu Santiago "ohhh maafkan aku Santiago, sepertinya aku memang harus tetap begini. Biarkan saja Venesia melupakan aku... toh kami belum pernah menjalin hubungan sama sekali. Ditambah keadaanku dan luka di wajah ini yg masih membekas... pantasnya aku dipanggil 'si buruk rupa' saja. Maafkan aku Santiago... balasku di email sekenanya. Aku lalu menutup akun. Dan kembali termenung...


Esoknya aku kembali bekerja, dan kulihat banyak antrian service datang. Sepertinya bakal sibuk hari ini. Mulai dari cuci steam mobil, TUNE UP PERFORMA, turun mesin, hingga kebagian-bagian yg ringan seperti hanya ganti oli. hahaha ^_^ begitulah aku menghafal kegiatanku sehari-hari, seperti orang bodoh ya?. Aku lalu menemui konsumen yg hendak ganti oli dan memeriksa tekanan angin ban mobilnya. " Permisi Pak, Selamat Pagi. Ada yang bisa saya bantu " Dan ketika kaca rayban mobil itu dibuka... aku melihat Alehandro... dengan Venesia yang sedang duduk melihat ke jendela berlawanan dengan arah aku berdiri... Lalu Venesia menoleh... karna mendengar suara yg tidak asing lagi baginya entah bagaimana." Beeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn " itulah kata yg terucap dari mulutnya.

>>>> to be continued.


Bruno

Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 6

Aku lalu bergegas keluar dari persembunyian... dan lompat menendang berandalan yang ingin menusuk Venesia. Dan kena telak, aku menumbangkannya. Seketika Venesia dan Santiago pun tahu aku ada dan bergabung padaku... ups, sial.. harusnya aku tetap sembunyi kalau seperti ini jadinya. Venesia lalu berkata" Terima Kasih Tuan Tampan Pangeran berkuda putihku " Venesia lalu memelukku. ahhhhhhh" Eitssssss... Simpan dulu kata-kata yang tidak perlu, sana-sana hiiiii... sebentar lagi masuk, ayo bereskan mereka " kataku." Santiago kau maju duluan "" Dasar kau " Santiago menyanggah... lalu dia pun maju ke depan membereskan sisa dari berandalan yg masih aktif, Venesia menyusul... Aku lalu sembunyi lagi. hehehe ;) bukan." Lho kemana tuan tampanku pergi? Beeennnnn " Venesia mencariku. Setelah gerombolan berandalan itu tumbang, mereka (berandalan) pun pergi... sambil berkata " Awas Kalian ", aku sudah terlebih dahulu datang membawa serta Satpam Sekolah bersamaku. CHECKMATE, Satpam Sekolah lalu mengambil tindakan... dengan membawa mereka semua ke Kantor Polisi Bostov. Venesia menghampiriku lagi... dan aku sudah tahu dia mau apa, lalu aku berlari... menghindar sejauh mungkin. Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii Ya, tapi aku sangat berterima kasih kepada mereka (Venesia & Santiago) karna sudah membalas perbuatan para berandalan itu terhadapku.

Setelah kejadian itu, Satpam melapor kepada Ibu Veronicca. Lalu aku dipanggil ke kantornya... Ibu Veronicca bertanya beberapa hal, lalu aku menjelaskannya lebih rinci dan menyebutkan Venesia yang menjadi korban. Ibu Veronicca mengerti dan membebaskan aku dari hukuman... Memang dia tidak suka dengan perkelahian dan tidak ada kompensasi untuk hal itu selain dikeluarkan dari sekolah. Akan tetapi karna Venesia yg menjadi korban yg aku bela kesuciannya Ibu Veronicca justru salut padaku... dan menyanjungku." Kamu Hebat Ben, laki-laki sejati... seandaikan Ibu masih muda, mungkin Ibu akan menjadikanmu pacar Ibu. hahaha :D " candanya. Aku tersipu malu mendengar ucapan kepala sekolahku yang satu ini." Tapi wajahmu itu, apa tidak apa-apa? " tanya Bu Veronicca kembali. " Tidak kog, Tidak masalah... Tidak apa-apa Bu "
" Baiklah kalau begitu, silahkan kembali ke kelas Ben dan jangan berkelahi lagi " " hehehe ya baiklah "

Aku kembali ke kelas, Venesia sudah menunggu dengan setia di kursi sampingku. Aku hanya bisa diam terpaku saja, saat dia terus menerus memandangiku. Luka di wajahku tidak aku tutup-tutupi lagi dihadapannya, aku tersipu malu... karna barusan dia membelaku itu sudah sangat menggetarkan hatiku, apalagi dia ikut bertarung tadi, walau kutahu dia bisa bela diri tapi tetap saja dia wanita... seorang wanita yg pemberani, terima kasih Venesia ucapku dalam hati. Aku tidak berani mengatakannya langsung padanya karna banyak hal yg masih menjadi pertimbangan dalam hatiku. Kegiatan Belajar mengajar seperti biasanya... Pak Rich mengucapkan selamat datang kembali padaku, dia sepertinya rindu sekali padaku. Santiago hanya tersenyum saja melihat ayahnya... Aku mengerti perasaan itu. Terima Kasih Pak Rich, ucapku...Bel pulang sekolah pun berbunyi... kami semua pun pulang ke rumah masing-masing. Venesia tidak mengikutiku lagi, sebab Ayahnya... Dudley Mertys, selalu datang menjemput bersama supir pribadinya. Aku pun pulang, mengayuh sepeda... Sesampainya di rumah, aku terkejut... Barang-barang rumah semua berada di luar rumah. Ayahku pergi bekerja ke Enville, jadi hanya ada Ibuku disana dan Bendias yang menangis melihat dua orang berbadan kekar mengeluarkan semua isi rumahku. Dan ternyata mereka adalah suruhan pemilik rumah, Tuan Kingsley... karna kami memang terlambat membayar uang sewa kontrakan.


>>>> to be continued.


Kingsley

Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 5

" uhuk uhuk uhuk " aku pura-pura batuk. " kenapa kamu batuk? sengaja ya? " Venesia seakan tahu. sial. " Ehemmmmmmmmmmmmm, bukan... sepertinya ada sesuatu yg mengganjal di tenggorokan " " Baik, biar aku yang mengambilkan minum. Ibu dimana minum yang biasa diminum oleh Ben " Dia memanggil Ibuku dengan panggilan Ibu seakan sudah akrab saja... aduh. " Itu disana, di dapur. Dari sini lurus terus ambil kiri... cari saja air di pendingin. " sambung Ibuku tersenyum. Secepat kilat Venesia langsung mengerti begitu saja. Dan air pun sudah datang... " Terima Kasih Ibu, Ayo Ben diminum... Apa mau aku tegukkan " " Jangan-jangan... tidak usah, biar aku sendiri saja " Aku pun minum. Ibu dan Santiago tertawa di Ruang Tamu... Begitulah... Venesia sudah menjadi bagian dari kisah singkat yg baru saja aku alami. Namun timbul pertanyaan besar dalam diriku... Darimana dia tahu nama lengkapku. Aku pun bertanya pada Venesia.. " Nona kecil, boleh aku bertanya sesuatu... " " hmmm apa? " sahut Venesia. " Darimana kamu tahu aku, dan nama lengkapku mendetail? " " dari Perawat ruangan tempat aku dirawat, dia menunjukkan fotomu dan memberitahukan namamu... katanya dia juga suka kamu, tapi aku tidak suka sikapnya yg begitu, huhhhhh. Aku hanya bisa menyaksikan kamu dari seberang kamar... sebab kamu ada di seberang kamarku... di Ruang Jompo... benar kan? ". " eheeee... :') tidak tahu. " kembali aku begitu. " kalau tidak salah nama Perawat itu... Cicilia " " oh... Cicilia, dia Perawat nenekku dulu yang sekarang sudah meninggal, dia memang cantik " " huffffffffffffffffffffffffhhhhhhhhhh " Venesia seakan cemburu, atau memang cemburu. sudahlah. " Baiklah waktu berkunjung sudah habis nona, mari kita pulang... biarkan sahabat terbaikku Ben istirahat dengan tenang... ayoooooooo " Santiago Sang penolongku, Terima kasih Santiago. " Tidak mau, aku belum mau pulang. Kau saja sendiri sana yg pulang bersama hewan ternak " " Ayoooo nona bandel.... " Santiago pun menyeret Venesia yg memang lebay ini pulang. Dan akhirnya aku pun selamat. lho kog?. hahaha :D ya! benar! selamat.

Empat hari sudah berlalu, Santiago dan Venesia rajin sekali berkunjung setelah pulang sekolah. Aku malah mendoakan semoga Venesia terpikat dengan Santiago empat hari belakangan saat aku tidak berada di sekolah. ya! semoga saja... hmmmm. Setelah empat hari itu, besoknya aku masuk kembali ke sekolah. Suasana seperti biasa di sekolah walau aku tidak ada selama empat hari... yahh mungkin karna aku orang miskin, jadi tidak terlalu diperhatikan di lingkungan elite sekolahku ini. Bukan sebuah kebanggaan juga kurasa berstatus sebagai orang miskin, sebab semuanya serba terbatas. Ok! Aku mulai memasuki kelas, teman-teman sekelasku tidak menegurku seperti tidak pernah terjadi apa-apa kepadaku... Miriam, Desy, Martha gerombolan girlies itu hanya memandangiku seperti memandang orang mati yang baru bangkit saja, waw mereka terheran-heran atau malah jijik karna wajahku yg masih membekas tiga goresan luka yang sepertinya tidak akan bisa hilang. Kulihat Venesia belum datang dan Santiago juga belum terlihat. Mungkin karna aku terlalu pagi datang.

Aku lalu bertanya pada Bell " Bell, hai. Kau melihat Santiago, anak Rich. Pak Rich " " Tadi kulihat dia di belakang gudang bersama Venesia anak baru itu dan beberapa gerombolan Berandalan, kurasa bakal terjadi kejadian seru " " Apa? Hei yang benar kau? " Aku lalu bergegas ke arah belakang gudang. Belakang gudang memang terhubung dengan rumah penduduk, gerbangnya selalu terbuka karna selama ini selalu aman... sebab para guru biasa pulang lewat situ juga biar lebih simpel, termasuk Pak Rich. Aku sampai ke lokasi, dan kulihat memang berandalan yang mengeroyokku yang sedang Santiago dan Venesia temui. Nampak Venesia melipat kedua lengan bajunya ke atas. Dan Santiago juga melipat kedua tangannya ke dada. Aku bersembunyi... saat itu jam menunjukkan pukul 07.00, setengah jam lagi bel sekolah berbunyi. Aku berpikir... Apakah Santiago dan Venesia akan berduel dengan mereka demi membela aku. Ohhh, bagaimana ini? Venesia lalu mulai melompat, dan meninju salah satu berandalan itu. DUAGHHHHHHHHHHHHHHHHHH, Santiago menyusul dengan menendang salah satu berandalan. Sepertinya Venesia jago bela diri. Kalau Santiago memang jebolan karateka. Ahhhhhhhhh, pusing aku dibuatnya. Sebenarnya apa yg sedang terjadi? Semakin seru saja pertarungan yang sebentar lagi menuju klimaks. Dan itu dia, Berandalan yang memegang pisau mendekati Venesia... Dan mengayunkan pisaunya tepat ke depan Venesia. " JRATSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS " bunyi pisau itu mengenai bahu Venesia. anehnya tidak ada satu murid pun yg datang kemari. Dan serangan berikutnya mengincar dada Venesia... Sepertinya kali ini Venesia tidak dapat mengelak.


>>>> to be continued.


Berandalan yang mengganggu Venesia

Emily (Pemilik Kedai Kopi)

Cicilia (Perawat Venesia dulu)

Lucas Gastanyo

Alehandro Gastanyo

Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 4

Aku hanya bisa terbaring lemas. Sakit sekali memarku ini, ditambah luka-luka lainnya. Dan wajahku yg memang tidak tampan juga sempat terkena sabetan pisau, ada tiga goresan kecil jadi di wajahku.
" Apa yg kau lakukan nak? Setahu Ayah, Ayah tidak pernah mengajarimu berkelahi. Itu hanya menambah masalah.... ohhh sekarang lihat dirimu " kata Ayahku Ronald.
" Ohh nak, kenapa harus jadi begini? Kenapa kau tidak lari saja? " ibuku menambahkan.
" Maaf yah, bu. Luka ini hanya luka kecil kog... dari Harapanku yang lebih besar. Ayah dan Ibu tenang saja... akan kupastikan aku akan sembuh. Dimana Bendias? "
" Kaaaaaaahakkkk kaaaaaaaaaaaaaaaahaaaaakkk, kahakkkkk nenapa? "
" Tidak Bendias, tidak terjadi apa-apa kog. Bendias tidur saja ya! tidak perlu mengkhawatirkan kakak, ok! "
" kaaaaaaaaaahaaaaaaaaakk nenapa? hayaaaaaaaaa tatutttttttttttttt kaaaaaaaaahaaaaaaaaakkk natiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii "
" ngomong apa sich, jangan aneh-aneh ah... ga akan "
" hehemmmm hayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa idurrrrrrrrrrrr nuluuuuuuuuuuuuuuuu yaaaaa kahaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk "
" OK Bendias, kamu jagoannya! "
Bendias pun akhirnya tidur dikamarnya yg ada kasur. Sebenarnya kasur untukku dan Bendias hanya tinggal satu semenjak Bendias membakar kasur lainnya karna tidak sengaja menjatuhkan lilin saat sedang mati lampu.
Jadi keuangan kami tidak memungkinkan untuk membeli kasur lain lagi, uang sewa rumah pun sampai sekarang masih menunggak 4 bulan. Jadinya aku mengalah untuk Bendias adikku yang kusayang...
Aku tidur ditikar, sebab tidak mungkin aku tidur bersama ayah ibu yg mereka pun hanya memiliki satu kasur bersama. Perlu diketahui kasurku dan Bendias itu kecil hanya muat satu orang. Sedang Ibu ayahku kapasitasnya pas untuk dua orang.
Aku pun istirahat, sorenya pukul 15.15, bel rumahku berbunyi... Ibu lalu membukakan, dan ada Santiago disana.
Tapi tiba-tiba saja Santiago didepak dan muncullah Venesia yang langsung masuk begitu saja.
Santiago menjelaskan pada Ibuku bahwa Venesia juga teman kami.
" Kamu tidak apa-apa Ben? Aku khawatir sekali, sebenarnya aku ingin langsung menghubungimu dan menjengukmu tadi. Tapi temanmu ini melarangku, tunggu selesai sekolah saja katanya. uhhhhh dasar sial... huhhhhhhhhhhhhh "
" kamu ini ngomong apa? itu sudah menjadi kebiasaan kami kog, aku yang mengusulkan...
Aku dan Santiago sudah berjanji apa pun yang terjadi bersekolah harus menjadi yang utama "
" Dan bagus kan kalau dia menepati janji "
" TIDAK. TIDAK BAGUS, KALAU KAMU HILANG SUNGGUH TIDAK BAGUS. AKU PASTI SEPI "
" Hei nona, kita baru kenal kemarin... memang aku siapamu? Lagian aku tidak memintamu untuk menjengukku kog, ini hanya luka kecil. "
" ini, wajahmu " sambut Venesia.
Aku lalu bergegas menutup wajahku yg tergores dengan kedua tanganku.
Venesia menepis, tapi aku kembali menutup wajah.
" Kenapa itu? " kata Venesia.
" Dari awal aku memang sudah buruk kog, wajahku pun sama. Jadi tidak masalah buatku " balasku yg masih menutup wajah.
" Aku ingin lihat, buka Bennnnnn. Pasti mereka ya yg melakukannya. Aku melihat salah satu dari mereka memang membawa pisau kemarin " jelas Venesia.
" Bukan kog bukan, bukan yg kemarin " belaku.
" Pasti mereka, dasar kurang ajar. Awas saja " Venesia terlihat marah.
" Heiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, kamu ini kenapa sich? "
Lalu Venesia memegang tanganku. Dug dug dug dashyat sekali serangan jantung yg kulanda, tegang rasanya.
Venesia melihat wajahku. Dan aku berpaling. katanya
" Kenapa Ben? Ayo lihat aku... Kamu sudah menyelamatkan aku, sudah saatnya aku menyelamatkanmu juga "
Ibuku melihatnya, Santiago juga, dasar sial.... moment apa ini sebenarnya?
Ibuku malah tersenyum...
" Bennnn, semenjak kamu mengetuk hatiku waktu aku dalam keadaan menderita karna sakit kamu sudah melekat di hati ini. Tidak. Tidak bisa hilang sedikit pun " tegas Venesia.


>>>> to be continued.


Ronald Bouston Steve


Lucy Handy Steve

Bendias Steve

Dudley Mertys

Kepala Sekolah Saint Mariald " Veronica Rebecca "

Rich Anderten

Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 3

" mencariku ? tidak mau hilang ? tunggu tunggu tunggu ini semakin tidak jelas nona kecil... " balasku." ada apa sebenarnya? " sambungku lagi." kamu tahu Rumah Sakit Roswald Bostov ini kan!? " tanyanya." dan... biasanya apa yg sering kamu lakukan disana " Aku semakin tidak memahami... Memang pada saat senggang dulu sekali aku sering mampir ke Rumah Sakit itu untuk mengenang kepergian nenekku yang meninggal di rumah sakit itu juga. Aku suka menghibur kaum tua yg sakit dengan bernyanyi semerduku... karna hanya itulah yg mampu aku lakukan setidaknya buat menghibur hati mereka yg jatuh. Karna banyak juga anggota keluarga mereka yg tidak datang menjenguk. Hanya itu saja yg kuingat kulakukan di Roswald Hospital... selebihnya tentang gadis ini aku tidak ingat sama sekali. Kujawab saja" tidak tahu, memang aku pernah kesana ya? " " kenapa kamu jadi jahat seperti ini? padahal aku sudah lama menunggu datangnya hari ini " " saat itu kamu datang dan sering datang bernyanyi... menghibur banyak orang sakit, yg salah satunya adalah aku " " saat mendengar kamu bernyanyi semangat hidupku kembali bangkit, terutama lagu tadi yg sering kamu nyanyikan SONG from HEAVEN " tuturnya padaku.

Sedikit demi sedikit aku mulai paham, dan di hari pertamanya itu rasanya seperti setahun saja. Dia seperti sudah akrab sekali denganku dan dia juga menceritakan bahwa dia terkena penyakit kanker otak, namun sekarang sudah sembuh. Kembali dia tersenyum padaku sampai bel pulang tepat pukul 15.00 aku hanya bisa diam terpaku, masih tegang dan tidak biasa. Aku segera bergegas mengambil sepedaku yg aku titip di kantin, lalu kudorong sampai ke depan gerbang. Kulihat di teras depan Venesia masih berdiri.
Kurasa menunggu mobil jemputannya. Tiba-tiba saja anak brandalan dari sekolah lain datang mengacau... dan menghampiri Venesia." Haiiii manisssss, bagi kissss nya donk... hahahahaha "kuhitung jumlahnya ada 5 orang. Aku kayuh sepedaku cepat kearah mereka dan dua orang tertabrak lalu menimpah tiga lainnya. Kusuruh Venesia bergegas naik ke sepedaku dan kami pun selamat melaju..." tidak apa-apa kan? " sahutku." iya.......... terima kasih " dia tersenyum lagi. ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh" rumahmu ke arah mana nona kecil? " " itu... 5 blok lagi dari sini, Perumahan King Bostov no rumahnya 52 " Setelah sampai aku pun segera bergegas memutar arah sepeda dan hendak pamit. Tapi dihadang Venesia, dan malah dia mengundangku sejenak untuk mampir ke Istananya itu... besar sekali rumahnya no.52 ini. Berulang kali aku mengucapkan alasan, tetap disanggah Venesia... dia bilang sebentar saja ingin mengobrol, mengucapkan terima kasih sambil minum teh.

Dan disaat kami sedang berbincang, Pemilik Rumah ayah Venesia... Dudley Mertys keluar dari kamarnya dan menghampiriku." Sayang,, ini teman sekolahmukah? "" iya Ayah, ini Pria Penyelamat Hidupku Ben Archer " " hee, Venesia berlebihan Tuan Besar, saya hanya orang biasa. Dan saya ingin mohon pamit kepada Tuan Besar sekarang... " " Jangan Ayah dia tidak boleh pulang, pokoknya tidak boleh "" Venesia... dia mungkin ada urusan. Lagian juga sebentar lagi, Keluarga Gastanyo akan kemari. Jadi tidak mungkin ada gembel seperti ini disini " " Ayahhhhhhhhhhh, dia bukan gembel... " " iya udah dech, saya pamit ya Tuan Besar. maaf mengganggu ketenangan anda " " Beeeennnnnnnnn " " sampai bertemu besok ya Venesia " sahutku...Dan benar saja Keluarga kaya yg lain pun datang... kali ini konglomerat daerahku sendiri Bostov " Tuan Lucas Gastanyo " dan anaknya " Alehandro Gastanyo " yang mengemudikan Mobil Porsche hitam. Aku pun melanjutkan perjalanan dari tiap kayuhan sepedaku menuju kedai kopi untuk mengambil uang hasil dagangan roti. Esoknya pun sama seperti biasa, hanya saja kali ini di sekolahku dengan hadirnya Venesia di bangku sampingku akan membuatku sedikit tidak nyaman setiap harinya. Tetapi aku harus mulai menyesuaikan diri saja. Saat pulang, naasnya aku. Aku dikeroyok oleh mereka (para berandalan kemarin) sampai babak belur. Dan aku pun terbaring di rumahku penuh luka.



 >>>> to be continued.


Santiago Anderten

Angelica

Miriam, Desy, Martha

Bell

Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 2

" ummmmmm, apa? " sahutku pelan yg asal saja...
" itu.. lagu yg tadi SONG from HEAVEN album HIGH GATE dari SIMPLE, ya kan? " balasnya. Waw dalam hatiku, kenapa dia bisa tahu dengan detail tentang lagu barusan. Aku seperti sedang melihat dewi yang benar-benar sempurna yg baru saja turun dari langit ketujuh (jika memang ada). Dan aku mulai berani membalas " Aku tidak mengulang jika bukan keinginanku sendiri siapapun dirimu nona kecil... maaf. hmmmm " " Kalau begitu baiklah, Tuan Tampan ! " dia pun tersenyum penuh arti. ahhhhhhhhhhh sial, kenapa jadi begini? Apa anak ini sudah gila pikirku!? Sejuta tanya tersimpan dalam diri, aku pun mulai menyesuaikan keadaan. Venesia pun mulai memilih alat musik yang dia inginkan... BIOLA. Ternyata dia sangat mahir memainkan BIOLA, dan lantunannya sangat merdu dan indah. Serasa aku berada di taman bunga yang disekelilingnya terhampar banyak jenis bunga, damai sekali. Lagu yang dia mainkan adalah SOMEWHERE OVER THE RAINBOW dari JUDY GARLAND. Entah apa yang dia rasakan saat memainkan lagu itu, yg jelas dia seakan mengingat sesuatu yg tidak mau ia lupakan. Ditengah ia bermain ia kembali menatapku... kali ini sangat tajam tatapannya, namun tetap saja bibirnya itu tersenyum entah pada siapa, mungkinkah padaku? GR sekali aku ini... sepertinya bukan dan akan kupastikan bahwa itu jelas bukan aku.

Dentang lonceng istirahat pun berbunyi... menandakan jam 12.00 siang, karna pelajaran seni yang diutamakan di Saint Mariald adalah 4 jam tipa harinya. Aku keluar bersamaan dengan Santiago. Kembali ku bercanda gurau dengannya, apa saja kami bicarakan... tapi sudah jelas kali ini dia lebih membicarakan Desy gadis idamannya. Dia bilang dia sempat chating dengan Desy dengan menyamar sebagai " Pangeran Kodok " sebagai nick dari chat-nya. Lalu aku bertanya padanya " Bagaimana hasilnya? ". Dia malah tertawa... hahaha :D Santiago melanjutkan bahwa Desy marah dan tidak peduli... lalu ia menyampaikan ini padaku " Ben, Wanita itu kalau dia sering marah pada kita berarti dia CINTA. " " Mengarang saja kau ini, wajar dia marah... kau sendiri menyamar jadi orang lain " Hahahahaha :D dia kembali tertawa. Posisi kami saat itu sedang berada di bangku taman tepat dibawah pohon sakura yang bibitnya berasal dari Negerinya berasal JEPANG.

Seketika itu kulihat ada seorang gadis bertanya pada Angelica teman sekelasku juga, dan tiba-tiba Angelica menunjuk ke arah tempat aku berada. Gadis yang bertanya pada Angelica itu pun lalu bergegas menuju ke arahku...Setelah kulihat lebih dekat. Astaga itu Venesia Mertys, mau apalagi dia. Hari pertama dia masuk saja sudah seperti ini terhadap teman sebangkunya. Aku lalu pamit pada Santiago. " Aku mau ke kamar kecil sebentar Santiago, tunggu aku disini "Aku lalu sedikit mempercepat langkah. Venesia terus mengikuti. Ketika aku sedikit mengecoh dia, dia kehilangan jejak. Kulihat dia seperti sedih sekali... kenapa gerangan? Mungkinkah aku mirip seseorang baginya... yang selalu ia rindu-rindukan. Apa mungkin aku mirip dengan pacarnya? Aku terus berpersepsi dalam imajinasi dan pikiranku. Tetapi aku kembali pada satu titik yakni " sadarlah Ben, kamu itu orang miskin dan kamu harus fokus pada adikmu Bendias dan kejayaan keluarga ". Ya! Aku berusaha kembali meyakinkan diri, tidak mengikuti nafsu manusiaku.Kuperhatikan jam di dinding kantin yang terletak di dekat kamar kecil yang tadinya ingin aku tuju. Posisiku saat ini adalah di depan Kantor Kepala Sekolah Ibu ' Veronica Rebecca ' Kepala sekolahku yg cantik dan tegas. Aku suka kata tegas.

Kuperhatikan jam sudah tepat pukul 12.57, tiga menit lagi mata pelajaran akan dimulai. Dan pukul 15.00 sore waktunya pulang. Aku kembali ke bangku taman dan Santiago masih menunggu, terima kasih. Santiago lalu berkata " Lo dicari Venesia tuh katanya mau ngomong sesuatu " " Lo hebat juga Ben hari pertama dia masuk lo udh bisa ngegaet dia... ajarin donk caranya, gw rasa lo bisa jadi Playboy " katanya. Aku membalas" Apa'an? Ah ngacooo aj kau Santiago... ". Bel masuk pun berbunyi kami pun masuk lagi ke dalam kelas yg kurasa siap membunuhku dengan Venesia yg berada di dalamnya. Benar saja... ada Venesia masih di bangku sampingku." Tadi kemana? " langsung dia memulai percakapan kami. " emmmmmmm, ke kamar kecil... iya kamar kecil " belaku. " Kamu tidak boleh hilang kemana-kemana " balas Venesia." Kenapa? kog gthu... " " Sebab kamu berharga bagiku, aku sudah mencarimu sekian lama "



 >>>> to be continued.


Ben Archer Steve




Cinta ini Harapanku untuk si cantik (proloque BEAUTY & THE BEAST)>>bag. 1

Pagi ini seperti biasanya, tidak ada yang istimewa. Dirumahku yang sederhana dan kamar yang hanya beralaskan tikar tempat dimana aku tidur tadi malam. Ya, dengan hanya itu pun aku sudah bersyukur dapat tidur nyenyak tadi malam. hmmm (^_^) Oya... namaku Ben... Ben Archer Steve lengkapnya. Ayahku Ronald Bouston Steve sebagai kepala keluarga bekerja sebagai mechanic di sebuah Bengkel mobil wilayah Enville, namun belakangan ini karna usianya yg sudah berumur dia sering melakukan kesalahan di tempat kerjanya. Sedang ibuku Lucy Handy Steve adalah pekerja di pabrik kecil bernama Fork yg hanya memproduksi sapu yg dihargai 5 $ tiap buahnya...ya.. aku pun masih duduk di bangku SMA dengan keadaan yang apa adanya aku selalu bersyukur... walau sebenarnya kutahu banyak sekali beban dihatiku karna keadaan ekonomi keluargaku sendiri. Aku memiliki adik laki-laki bernama Bendias Steve yang keadaan fisiknya tidak memungkinkan sejak ia lahir di dunia. Adikku yang lumpuh layu itulah... alasanku untuk selalu semangat menempuh perjalanan hidupku. Seperti biasanya aku selalu berangkat lebih awal ke sekolah 06.30 pagi yang padahal masuk jam sekolah adalah jam 08.00. Aku biasa menghabiskan waktuku sampai dengan jam 08.00 itu dengan mengantarkan barang dagangan yang dititipkan ibuku kepadaku berupa roti-roti isi buatan ibuku untuk dititipkan pada Ibu Emily agar terjual di kedai kopinya. Aku mengantarkan roti itu dengan sangat hati-hati menggunakan sepeda gunung milik ayahku yg telah diberikan kepadaku. Setibanya di kedai kopi Bu Emily seperti biasanya aku mengucapkan Terima Kasih karna roti yang selalu aku antarkan tiap paginya selalu habis... setelah aku mengambil uangnya pada sore hari. OK! Aku lalu bergegas ke sekolah... yang jaraknya dari rumahku kurang lebih 10 km. Kukayuh sepedaku dengan penuh semangat... sampai-sampai ransel yang kubawa bergoyang ke kiri ke kanan.

Aku ini tinggal di wilayah Bostov dekat Enville tempat ayahku bekerja... Jadi Sekolahku pun masih berada di wilayah Bostov itu, nama sekolahku Saint. Mariald daerah Bostov, tergolong sekolah elite di wilayahku... yg sebenarnya tidak pas / tidak cocok buatku. Ya, tapi karna aku memperoleh beasiswa dari sekolah... aku diterima di sekolah ini. Akan Tetapi lingkungan elite ini sempat membuatku minder juga... hmmm (^_^) Aku hanya memiliki satu teman di sekolah ini... namanya Santiago anak dari Rich Anderten guru Seniku. Mengenai wanita... banyak sekali gadis cantik disini... dan sudah jelas dari lingkungan elite. Miriam, Martha, Desy gadis-gadis yang memukau... hmmm (^_^) Santiago temanku itu tertarik dengan Desy yang kecantikannya seperti Putri di Negeri-Negeri Dongeng menurutnya. Sedang aku tidak satu pun membuatku tertarik... karna bagiku kecantikan itu hanya ilusi saja.

Sampai pada suatu hari... aku pun menarik kata-kataku... Karna sekolah kami kedatangan murid baru dari Enville bernama ' Venesia Mertys ' anak konglomerat Enville ' Dudley Mertys ' yang baru saja membuka cabang baru dari Perusahaannya di Bostov ini. Venesia.. sosok yang mampu memikat hatiku ini kurasa berumur sekitar 17 tahun sedang aku yang 19 tahun 2 tahun berbeda darinya. ' si cantik ' kurasa aku harus memanggilnya demikian. Tapi mengingat statusku aku kembali sadar akan banyaknya ketidak mampuan yang kumiliki. Buat apa menjatuhkan cinta pada seseorang yang sudah jelas jauh berbeda status dan kedudukannya dengan kita. Mengingat ini.. hatiku seperti terpukul-pukul, remaja sepertiku memang sudah saatnya menjalin asmara dengan lawan jenisku, tetapi untuk yg satu ini aku harus kembali menyadarkan diriku sendiri. Dan juga demi adikku Bendias aku harus fokus pada kesuksesan yang harus aku bangun sendiri dulu. Dimulai dari " tekun belajar , dan rajin bekerja pekerjaan yang bisa dilakukan setidaknya untuk saat ini ". Tanpa disadari setelah memperkenalkan diri, Venesia menatapku... lalu aku membuang muka.Karna bangku disebelahku memang kosong, Venesia lantas meminta ijin pada Guruku Rich agar dia duduk disampingku. Kaget aku seketika... jantungku serasa mau copot, Venesia berada disampingku. Kenapa?Oh tidak. Dia mulai tersenyum dan menyampaikan salamnya padaku " Hai, Aku Venesia, kamu Ben Archer kan? " Lebih terkejut lagi aku... dia mengetahui namaku persis. Kenapa?

Pelajaran Seni pun dimulai... Pak Rich menginstruksikan Bell teman sekelasku untuk mengambil sejumlah alat musik di Gudang Penyimpanan, lalu aku pun mengajukan diri juga membantu Bell karna aku masih bingung dan gugup tentang Venesia yang meminta duduk dan berada disampingku. Aku dan Bell pun pergi bersama ke Gudang Penyimpanan. Ternyata disana banyak sekali alat musik. Perlu diketahui aku baru saja masuk sekolah ini, kurang lebih 2 bulan yg lalu dan baru ini Pak Rich ingin mengajarkan kami alat musik setelah teori yang memusingkan sampai saat ini. Aku tertegun melihat gitar tua akustik yang masih mengkilat, sebenarnya untuk alat musik ini aku sangat mahir memainkannya. Ayahku yang mengajariku bermain gitar, hanya saja gitar yang kulihat kali ini bagus sekali. Aku memilih gitar itu, dan membawa sejumlah alat musik lainnya, duhh berat juga. Bell membawa drum, dan sejumlah seruling serta harmonika. Dia lebih memilih membawa yang ringan-ringan, dasar sial. Setibanya kami di kelas. Aku kaget, kukira ini hanya mimpi. Aku lupa Venesia masih duduk di bangku sampingku. Lantas bagaimana? Biarlah. Anggap saja tidak ada.

Pak Rich mulai menerangkan cara memainkan dari tiap-tiap alat musik tersebut. Kalau aku hanya fokus di gitar bagus ini... walaupun tua sebenarnya. Aku mulai menyetemnya, dan Venesia terus memperhatikanku menyetem, sial pikirku. Dug Dug Dug jantungku terus saja berbunyi... ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh dalam hatiku. Sebenarnya dalam kualitas wajah boleh ku bilang dengan jujur " AKU TIDAK TAMPAN " sumpah. Lantas kenapa gadis cantik ini malah memandangiku terus seakan mau menerkamku kapan saja. Saat nada mulai seimbang, kumainkan lagu favoritku " SONG from HEAVEN " dari grup band favoritku ' SIMPLE '. Kalau aku sudah mulai memainkan gitar dan bernyanyi biasanya aku sudah tidak peduli dengan sekelilingku lagi... Pak Rich memperhatikanku, dan dia tidak marah, malah kagum. Katanya " Hei, Ben. Kau so COOL, bagus.. teruskan seperti itu. Kurasa bakal ada Bintang baru di Dunia Musik ". " Terima Kasih, Pak. " balasku. Teman-teman elite sekelilingku mulai risih denganku yang sok-sok'an mungkin menurut mereka... Ya, biarkan sajalah... aku memang harus sadar tempat. " Mainkan lagi SONG from HEAVENnya " tiba-tiba saja suara halus itu memecah konsentrasiku yang sedang sembarang mencari-cari kunci gitar. Dan itu suara ' Venesia '.


>>>>  to be Continued.

Venesia Mertys