Venesia senang… Aku pun merasakan hal yg sama. Pagutan terakhir kami
menandakan cinta kami yg tersampaikan. “ Ben, memang begini seharusnya…
aku… milikmu “ “ hahaha :D ada-ada saja, ayo masuk dulu… disini
Hujannya lebat sekali lho… payung ini sepertinya sebentar lagi mau
ambruk “ Venesia lalu mencubit perutku. “ Awwwww, sakit tau! “ pekikku.
“ Yg serius donk… “ Venesia marah lalu memukul dadaku dengan kedua
tangannya pelan. “ iya… Aku suka Kamu kog… sudah tau kan!? Kala begitu
ayo masuk! “ “ he’emfff “ Venesia mengangguk. Ya, kami masuk ke dalam
rumahku dengan aku yg merangkul Venesia berusaha menghangatkan tubuhnya…
karna tadi dia terlanjur basah kuyub. Aku pun jadi ikut basah jadinya,
ya… tapi sudahlah. Saat-saat seperti ini tidak boleh ada alasan lain,
Jalani saja. (^_^)
Ibuku terlihat senang, lalu
membuatkan kami sup hangat… Di tengah-tengah hujan itu kami bertiga
bersenda gurau, mengobrol sampai puas… aku, Venesia dan Ibu. Sedang
Bendias sedang tertidur pulas di kamarnya. Malam pukul 09.00 aku lalu
mengantarkan Venesia pulang dengan mengayuh sepedaku ke Villanya di
Berdern Street kawasan elite Enville. Aku mengantarkan Venesia sampai
depan gerbang rumahnya saja. Venesia lalu mengundangku masuk. “ Ben
masuklah… istirahat dulu sejenak, ayah sedang tidak ada kog. Dia sedang
pergi ke Luar Negeri “ Tapi aku menolaknya. Venesia sempat menahanku…
tapi aku memperingatkannya bahwa aku akan benar-benar menghilang kalau
sifat agresifnya ini masih tetap diteruskan. Venesia lalu masuk ke dalam
rumahnya. Aku pun pulang dalam damai.
Ternyata
dari kejauhan mobil Alehandro terpampang, dia menyalakan lampu
penerangan mobilnya hingga menyilaukan mataku. Lalu memacu laju
kendaraannya seperti mau menabrakku, dan benar saja… dia memang hendak
ingin menabrakku. Aku berusaha menghindar, tapi terlambat… Aku
terpental, sepedaku pun hancur. Tapi beruntung aku, sepertinya nyawaku
masih ada. Alehandro lalu keluar dari mobil dan membawa tali tambang.
Dia seakan tahu aku masih hidup atau bagaimana dia lalu mengikatku… dan
menaruhku di Bagasi belakang mobilnya. Aku di dalam, pengap sambil
menahan luka. Kurasakan Porsche hitam ini melaju kencang… Dan lalu
berhenti, sepertinya inilah pemberhentiannya. Alehandro lalu
mengeluarkanku dari bagasi. Astaga, ternyata tempat pemberhentian ini
adalah jurang yg cukup curam, dan lagi aku tidak tahu ini dimana. Dia
lalu mendorongku yg masih dalam keadaan terikat sambil berkata “ Aku
sudah mengetahuinya sedari tadi, siapa pun penghalang hubunganku dengan
Venesia tak akan kumaafkan dan akan kulenyapkan, huh… hahahahaha 3:) “
Begitulah, aku menggelinding kebawah… grmbl grmbl grmbl… luka-lukaku pun
terasa sekali sakitnya saat membentur permukaan tanah yg keras.
Sepertinya kali ini aku benar-benar akan mati, sebab aku terus
menggelinding tak tahu sampai mana ujungnya. Alehandro pun menganggap
aku sudah mati. Bagaimana kelanjutan dari Ben Archer Steve sepertiku
ini… aku tidak tahu lah. Kali ini semuanya kuserahkan pada TUHAN. (atau
kepada si pengarang cerita ini saja, euyyy).
Lima
bulan sudah berlalu, dan aku masih tak tau ini dimana. Tapi aku
beruntung karna waktu itu ternyata ada penduduk daerah ini yg
menolongku, Pengobatannya pun masih tradisional… Yg jelas nyawaku
Selamat. (^_^) Dari surat kabar yang tidak tahu dapat darimana dia…
Laweki penduduk yg menolongku ini memberitahukanku bahwa sudah saatnya
aku pergi. Dari perawakannya dan peralatan yg ia gunakan sepertinya dia
ahli sihir. Karna tinggal sendirian juga di daerah ini. “ Laweki,
bagaimana aku bisa keluar dari sini… aku saja tidak tahu ini dimana dan
lagi apa isi surat kabar itu sehingga kau menyuruh aku pergi “. “ ini…
takdirmu. Kutukan akan dicabut… sebenarnya kau ini seorang Pawea yg
dikutuk Bahava “ “ Apa itu? Aku tidak mengerti“ “ kau adalah seorang
pangeran yg dikutuk dalam kepompong, maksudnya saat ini jati dirimu
masih terbungkus dan harus dilepaskan “ Laweki lalu membacakan mantra,
dan menyentuh keningku. Sepertinya ini tidak benar menurutku, ini
tahayul. Namun setelah itu Laweki menjelaskan padaku bahwa dia kenal
ibuku yg dia mengetahui namanya “ Lucy Handy “ karna Ayah Ibuku yg
adalah Kakekku adalah Kepala suku disini, tapi suku itu sudah lama
hilang… suku Fimawe dan Ibuku adalah Seorang Putri disini yg pergi ke
kota dan akhirnya menikah dengan ayahku. Kutukan itu berasal dari Clark
orang yg menyukai Ibuku tadinya… dia mengutuk seluruh keberuntungan dari
keluargaku termasuk aku yg seorang Pangeran… sepertinya lantaran
cintanya yg tidak tersampaikan kepada Ibuku. Dia melepaskan Bahava
(tolak rejeki) kepada kami, begitulah penuturan Laweki.
Atas
petunjuk Laweki aku tiba di Enville. Dan saat itu sedang diadakan lomba
musikus band… seperti kebetulan. Semua bebas mendaftar karna biaya
digratiskan. Pemenangnya akan menjadi artis dunia music yg baru. Aku
lalu menghubungi teman-temanku… Santiago kuajak dan dia mau, dia lalu
bergegas datang ke Enville menemuiku, Seniorku Ray… Bell juga yg pendiam
itu mau aku ajak. Lengkap sudah kami berempat, Aku pada posisi
guitarist plus vokal, Santiago pada solo gitar akustik plus backing
vokal… , Seniorku Ray sebagai drummer dan Bell Bassis. Sepertinya benar
kata Laweki tabirku pun terbuka… dari kepompong menjadi kupu-kupu yg
cantik. Band yg kami beri nama “ BEAST “ ini menang kompetisi, dan band
kami pun menjadi Band yg terkenal di Enville. Aku sempat menanyakan pada
Ibuku tentang kakek dan Laweki… dan Ibuku membenarkan semuanya.
Terkuaklah satu pembuktian.
Band kami melejit, aku
pun telah menjadi actrees tersohor di Negara ini. Bukan hanya Enville
dan Bostov saja tempat aku tinggal dulu, tapi seluruh wilayah kini
mengenal kami “ BEAST “. Album kami laris manis diborong fans fans
fanatic kami. Lagu2 yg beraliran slow Rock kami pun menjadi HITZ. Sampai
suatu saat kudengar Venesia telah bertunangan dengan Alehandro namun
sampai saat ini belum juga menikah. Aku kaget, berikut senang juga
lantaran Venesia menepati janji bahwa dia adalah milikku dan tidak
menikah dengan Alehandro. Di belakang panggung saat konser terakhirku
untuk pekan ini, Venesia datang ditemani Alehandro sambil berpegangan
tangan. Venesia lalu mendekatiku tapi ditahan oleh Alehandro. Aku lalu
memanggil pengacaraku “ Louis “ dan memintanya mengurus kasusku dulu
dengan memanggil petugas keamanan dan menjebloskannya ke Penjara saat
ini juga. Tanpa basa-basi lagi Petugas keamanan menahan Alehandro karna
mereka pun telah mengetahui duduk permasalahannya. Alehandro pun dikirim
ke Rumah tahanan atas tuduhan penculikan dan pembunuhan diriku dulu.
Dan Venesia pun lalu berlari sekencangnya memelukku erat sekali… “ Ben,
aku senanggggggggggggggggggggggggg sekali. Hiks hiks… tapi kukira kamu
benar menghilang selamanya karna aku yg agresif ini. “ “ Bodoh. Kau
sudah bilang kan bahwa kau adalah milikku… mana mungkin aku meninggalkan
yg telah kumiliki “ “ hehehe iya ^_^ aku milikmu. Selalu milikmu.
Selamanya “ “ Mari… ikut aku ke panggung pernikahan kita! Ayo! “ “ iya… ^_^ Ayo! “
Dan
dimulailah kisah kami yg benar-benar sepasang kekasih sekarang. Tidak
ada lagi yg aku tutup-tutupi, kami tutup-tutupi. Ayah Venesia pun
menyetujuiku dengan keadaan yg sekarang. Aku yg sudah kaya raya. Dan
sampailah kami pada tahap pernikahan, walau wajahku masih tergores tiga
gores luka ini. Venesia masih tetap mencintaiku, di depan mahkamah
agama… kami mengucap janji di Rumah Nikah Silvilia, Enville. Kulihat
Laweki datang, Ibuku dan Ayah menyadarinya… Laweki membawa kantung kain
yg kulihat sedikit berdarah. Dari keterangannya setelah acara ini aku
mengetahui bahwa itu adalah kepala Clark… Kutukan hanya bisa dicabut
apabila si pemberi kutukan dibunuh dan dicabut kepalanya, serta
kehadiran seseorang yg benar-benar tulus mencintai. Begitulah bunyi
hukum suku Fimawe. Setelah kedatangannya itu, aku mulai paham bunyi
hukum itu. Venesia lalu menciumku, kami saling berciuman… sebagai tanda
ikatan janji. Hal ajaib pun terjadi… Luka-lukaku semua yg membekas
tadinya pun.. telah hilang… dan wajahku sekarang menampakkan
kharismanya. Sekarang aku tampan, setidaknya begitu. Aku dan Venesia…
kami pun lalu Hidup Bahagia, selamanya. (^_^)Terima Kasih from Ben
Archer Steve and Venesia Mertys. (^_^)
THE END. Khamsahamnida. Arigatou. Thanks. Terima Kasih (^_^)
 |
| Laweki |
 |
| Clark |
 |
| Klimaks Cerita: Ben menikahi Venesia |
 |
| Mereka Bahagia sampai Tua |
 |
| Dan... |
 |
Inilah Akhir Cerita Bahagia untuk cerita ini.
Terima Kasih karna sudah membaca. (^_^)
SEE THE NEXT STORY!
by: Oktavianus Bernalius |